IKAMaT dan SCI Gelar Program Inisiatif Ekowisata Mangrove di Penajam Paser Utara

IKAMaT dan SCI Gelar Program Inisiatif Ekowisata Mangrove di Penajam Paser Utara

Penajam Paser Utara – IKAMaT. Pada tanggal 14 Februari 2017, Yayasan IKAMaT bekerjasama dengan Yayasan Social Conservation Indonesia (SCI) telah menjalankan program Inisiatif Ekowisata Mangrove Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Keterampilan dan Kewirausahaan di Kelurahan Kampung Baru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Kegiatan utama yang dilakukan berupa penjajakan dan survei sosial, diantaranya adalah pengenalan, penjajakan dan perijinan stake holder, baseline survey, penggalangan kepanitian lokal dan relawan mangrove, serta sosialisasi program.

Kegiatan selanjutnya adalah Mangrove Education, diawali dengan penguatan kelembagaan pengelola wisata melalui Forum Group Discussion (FGD). Kegiatan ini dilaksanakan di balai pertemuan kelurahan Kampung Baru yang dihadiri oleh Kepala Kelurahan, kelompok Sadar Wisata Kampung Baru dan Ketua RT setempat. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Kelurahan yang diwakili Kasi Kesejahteraan Sosial, Mawar Warsiah.

Selanjutnya, perkenalan sekaligus penyampaian program yang dimoderatori oleh ketua Pokdarwis, Suparjo. Kemudian, masuk ke inti acara, yaitu penguatan kelembagaan Pokdarwis melalui FGD. Hari Prayogi (IKAMaT) dan Muhamad Ghofur (SCI) sebagai pengisi materi.

Setelah memberikan pemahaman kepada peserta diskusi, peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing berjumlah 15 orang, kemudian kelompok diberi tugas untuk membuat analogi pohon dalam pengelolaan wisata, mulai dari akar, batang, daun dan buah.

Masing-masing komponen ini merupakan inti dalam mencapai tujuan bersama dalam pengelolaan wisata. Kurang lebih 15 menit waktu yang diberikan untuk berdiskusi. Selanjutnya, kelompok mempresentasikan hasil analogi pohon yang telah didiskusikan. Setelah presentasi, peserta diperbolehkan saling bertanya, memberikan pendapat maupun meminta masukan dari pemateri.

Hasil presentasi dari masing-masing kelompok dalam menganalogikan beberapa komponen sudah tepat, namun beberapa masih perlu perbaikan. Kedua pemateri bertugas untuk menyatukan pemikiran dan analogi agar tercapai tujuan dari hasil yang dimaksud.

Mulai dari akar yang merupakan komponen paling penting sebagai pondasi penyokong pohon itu sendiri, yakni semangat, kerjasama, kekompakan, kerja keras dan ingin maju.

Kemudian komponen batang sebagai tempat tumbuhnya daun, penyalur nutrisi dan terciptanya buah, seperti pemerintah desa, Pokdarwis, partisipasi swasta, sarana dan prasarana, manajemen wisata dan sosial media.

Komponen daun merupakan hasil awal jika akar dan batang tumbuh dengan baik, seperti ekowisata, festival budaya dan eduwisata.

Terakhir adalah komponen buah yang merupakan hasil/tujuan dari suatu pohon tumbuh baik, seperti pemasukan tambahan, kesejahteraan warga, desa maju dan generasi peduli lingkungan.

Dengan analogi pohon tersebut, diharapkan pihak kelurahan, Pokdarwis serta warga lainnya memiliki tujuan dan pemahaman yang sama untuk tercapainya kelurahan Kampung Baru yang maju.

Tidak lupa, disela-sela diskusi, Hari Prayogi menyampaikan pentingnya fungsi dan manfaat mangrove yang sangat besar serta menghimbau untuk bersama-sama menjaga hutan mangrove dari penebangan lir dan pembukaan tambak yang merupakan ancaman terbesar di Kelurahan Kampung Baru. (AP).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *