IKAMaT, UNDIP dan CIFOR Sukses Gelar Lokakarya Daring Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak

Semarang – IKAMaT. Pada tanggal 18-20 Agustus 2021, IKAMaT kembali berhasil menyelenggarakan program Peningkatan Kapasitas Restorasi Mangrove Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Benchmark Banyuwangi, Banten dan Demak yang diaplikasikan secara daring. Lokakarya daring tersebut terlaksana dengan mengundang dinas/institusi pemerintahan, LSM/NGO, komunitas dan masyarakat lokal. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari Webinar “Lokakarya Perdana Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal Tentang Restorasi Mangrove” yang telah dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2021 yang lalu.

Suasana lokakarya daring.

Lokakarya pertama dimulai dari benchmark Banyuwangi pada hari Rabu, 18 Agustus 2021. Lokakarya tersebut menghadirkan tiga panelis, yaitu Edy Widiantoro, S.Pi. (Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi), Azwar Najib Alhafi (Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam – ARuPA) dan M. Ali Saifudin (Ketua Bakti Teluk Pangpang Banyuwangi).

“Kami melihat, bahwa penguatan jaringan mangrove yang ada di Banyuwangi perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Adapun jaringan tersebut, diantaranya adalah kementerian, satuan kerja, instansi/lembaga, perguruan tinggi dalam negeri dan perguruan tinggi luar negeri,” kata Ali.

Lokakarya kedua dilanjutkan untuk benchmark Banten pada hari Kamis, 19 Agustus 2021. Lokakarya tersebut mengundang tiga panelis, yaitu Risnawati Rahayu, S.Pi. (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten), Urip Triyanto (Yayasan Lahan Basah) dan Muhamad Guntur (Kelompok Tabur Mangrove).

Dalam lokakarya tersebut, Daniel Murdiyarso (CIFOR) menyebutkan bahwa program Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM) berupaya untuk mengembalikan kembali jaringan pegiat mangrove yang ada di Banten, dan diharapkan dengan terbentuknya jaringan tersebut, maka para stakeholder dapat berbagi informasi antar wilayah yang terbagi dalam program tersebut.

“Di wilayah Banten, banyak masyarakat yang belum mengenal pengelolaan mangrove dengan memperhatikan mangrove. Untuk itu, maka perlunya kesadaran dan edukasi bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperhatikan hal-hal yang dapat mengurangi terjadinya degradasi mangrove,” ujar Guntur.

Hari Jumat, 20 Agustus 2021 merupakan lokakarya terakhir untuk benchmark Demak. Lokakarya kali ini kembali menghadirkan tiga panelis yang memiliki kompetensi di bidang mangrove, yaitu Arso Budiyatno, S.T. (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak), Trialaksita Sari Priska Ardhani, S.Kel., M.Si. (CIFOR) dan Ali Mahmud (OISCA).

“Kita tahu bahwa Kabupaten Demak sudah banyak terkena bencana rob dan abrasi pantai. Sementara solusi untuk memindahkan warga ke wilayah baru, masih perlu beberapa hal yang harus dipertimbangkan,” ujar Arso, saat ditanya mengenai solusi pemindahan warga terkena dampak rob dan abrasi.

Ali menambahkan bahwa warga masih memiliki kekerabatan yang kuat, sehingga mereka ingin memperbaiki Demak dengan saling bahu-membahu, bukan meninggalkan dan menuju lahan baru.

“Masing-masing benchmark memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Ketiga permasalahan pengelolaan mangrove yang terjadi, harus diselesaikan dengan solusi yang tepat agar dapat dijalankan oleh semua stakeholder mangrove, baik pemerintah, LSM/NGO dan masyarakat lokal,” ujar Bagus.

Harapan setelah kegiatan ini adalah, IKAMaT dapat segera berkunjung ke tiga benchmark untuk memperoleh informasi yang lebih detail mengenai permasalahan di masing-masing daerah. (ADM).

Leave a Reply

Your email address will not be published.