Hasil Temuan Kunjungan Lapangan Proyek ReCLAIM di Benchmark Demak

Demak – IKAMaT. Demak, Jawa Tengah dikenal dengan daerah para wali dan wisata religi-nya. Namun demikian, secara geografis, Demak merupakan daerah rawan rob dan banjir. Kondisi pesisir di Demak telah banyak mengalami pengurangan luasan, terutama di Timbulsloko.

Bertemu warga pesisir Demak.

Proyek pembangunan tol Semarang – Demak, semakin membuatnya tertekan, sehingga perlu dipersiapkan strategi khusus dalam memitigasi kerusakannya di masa depan. Maka dari itu, diperlukan program rehabilitasi mangrove di jalur hijau pesisirnya yang didukung stakeholder multi pihak.

IKAMaT, Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerja sama dalam proyek Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal tentang Restorasi Mangrove atau Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM) untuk mencari solusi mengenai hal tersebut di atas.

Untuk itulah, dalam implementasi ReCLAIM, IKAMaT melakukan kunjungan lapangan ke Timbulsloko dalam rangka penggalian informasi yang hasilnya akan dikelompokkan berdasarkan Strength, Weakness, Opportunity and Threat (SWOT) di masing-masing isu. (9-10/11/21).

Kondisi pesisir Demak.

Hari pertama, pada pukul 10.30 WIB, IKAMaT yang diwakili Gagas Tri Pamungkas (Bendahara ReCLAIM) dan Bagus Rahmattulah Dwi Angga (Koordinator ReCLAIM) bertemu dengan Ali (OISCA) dan Eko Ariyanto (DLH).

Dalam kesempatan ini, dibahas permasalahan pesisir Demak secara mendalam, diantaranya mengenai pengelolaan mangrove, jejaring dan perundang-undangannya.

“Warga pesisir sebetulnya tidak ingin pindah lokasi pemukimannya, karena penghasilan mereka dari pesisir. Cukup berikan fasilitas yang kami butuhkan, seperti pembangunan akses jalan, maka kami akan merasa senang dengan itu,” jelas Ali.

Gagas mengatakan bahwa pengelolaan kawasan pesisir di Demak sudah cukup intensif. Berbagai pihak sudah mencoba melestarikan ekosistem mangrovenya.

“Kualitas dan cakupan jejaring pengelolaan mangrove di pesisir Demak, saya rasa harus ditingkatkan lagi, sehingga warga dapat berharap-lebih akan penghidupan mereka di masa depan,” kata Bagus. “Jejaring ini harus mampu mempersiapkan strategi yang baik, untuk membantu warga di sini keluar dari kesulitan hidupnya, akibat rusaknya mangrove di Demak,” tambahnya.

Proses penggalian informasi.

Setelah itu, pada pukul 14.30 WIB, IKAMaT berkunjung ke kediaman Slamet (Perangkat Desa) untuk memantau kondisi Timbulsloko, secara umum.

“Saya sebagai salah satu perangkat di Timbulsloko, merasa senang dengan banyaknya pihak yang peduli dalam melindungi pesisir dan ekosistem mangrove di Timbulsloko,” ungkap Slamet.

Hasil dari kunjungan lapangan ini, akan diolah oleh IKAMaT, yang akan digabungkan dengan hasil temuan di kedua benchmark lainnya, yaitu Banyuwangi dan Banten sehingga didapatkan hasil yang lengkap dan proporsional untuk memberikan solusi terhadap berbagai masalah penghidupan yang ditemukan di kawasan pesisir Demak. (GTP/AP/ADM).

Leave a Reply

Your email address will not be published.