IKAMaT Dampingi CIFOR Kunjungi Warga Binaan KeSEMaT di Semarang Mangrove Center

Mangunharjo – IKAMaT. IKAMaT dan Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerja sama dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) dalam proyek Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Komunitas Lokal tentang Restorasi Mangrove atau Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation (ReCLAIM). Proyek ini dirancang untuk mempelajari mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di bentang alam pesisir melalui penilaian kondisi biofisika dan sosial ekonomi di tiga wilayah benchmark, yaitu Demak, Banyuwangi dan Banten.

Proses dokumentasi kegiatan di SMC Jateng.

Dalam rangka implementasi proyek ReCLAIM, CIFOR yang diwakili oleh Tim Communication, Outreach and Engagement (COE) berkunjung ke Sekretariat IKAMaT dan Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng) yang merupakan lokasi warga binaan KeSEMaT.

Sebagai informasi, SMC Jateng merupakan Sentra Batik, Jajanan dan Kopi Mangrove Semarang yang merupakan area kerja KeSEMaT dalam menggembangkan warga binaannya, dengan ketiga produk andalannya tersebut. CIFOR berkunjung ke lokasi ini, dalam rangka melakukan kegiatan dokumentasi dan silaturahmi. (19/11/21).

CIFOR berkunjung ke Sekretariat IKAMaT.

“CIFOR mengulik lebih dalam mengenai permasalahan yang terjadi di Demak dan sekitarnya di Sekretariat IKAMaT,” jelas Bagus Rahmattullah Dwi Angga (Direktur Program). “Saya menjelaskan beberapa hal kepada CIFOR, mengenai banjir rob, penebangan mangrove dan reklamasi yang mengakibatkan kondisi pesisirnya semakin tertekan,” jelasnya lebih lanjut.

Setelah itu, pada pukul 09.45 WIB, rombongan CIFOR dan IKAMaT menuju ke SMC Jateng untuk melihat dan mendokumentasikan kegiatan akuakultur dan pembuatan batik mangrove.

Pukul 11.00 WIB, rombongan bertemu dengan salah satu warga binaan KeSEMaT, yaitu Mufidah, selaku Koordinator Srikandi Pantura, yang sedang membatik dengan pewarna dari mangrove. Mufidah menjelaskan mengenai proses pengolahan batik mangrove, sembari mempersilakan rombongan mencicipi jajanan mangrove.

“Proses pembuatan pewarna batik mangrove ini, sangatlah ramah lingkungan. Batang dan akar serta buah mangrove yang membusuk-lah yang kami ambil. Jadi produknya non kayu,” terang Mufidah. “Kemudian, kami olah dengan cara direbus hingga berjam-jam. Kami memasarkannya dengan label batik mangrove Mas Bamat,” tambahnya.

Angga (CIFOR) mengatakan bahwa kerupuk mangrove memiliki cita rasa yang unik. Dia sempat terkejut buah mangrove ternyata dapat diolah menjadi makanan yang lezat.

Pada pukul 13.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan penggalian informasi mengenai akuakultur di salah satu tambak warga, yaitu Slamet. Slamet menjelaskan mengenai hasil panen ikan bandengnya yang mencapai puluhan ton.

Dokumentasi proses pembuatan batik mangrove.

“Saya sekarang menyadari betul bahwa masyarakat pesisir cukup mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ekstrim sekaligus, karena kekayaan alam kita cukup melimpah, jika kita ingin menjaganya,” kata Budy Kristianti (CIFOR).

Gagas Tri Pamungkas (Bendahara ReCLAIM) berharap bahwa hasil temuan di hari ini akan dapat didokumentasikan dengan baik, untuk mendapatkan gambaran mengenai kekayaan alam pesisir kita, khususnya ekosistem mangrove di SMC Jateng kepada masyarakat Indonesia bahkan mancanegara.

Acara selesai pada pukul 16.30 WIB yang ditutup dengan beberapa kesimpulan dan rekomendasi, serta tak lupa makan malam bersama di salah satu restoran di Semarang. (AP/GTP/ADM).

Leave a Reply

Your email address will not be published.