Semarang – IKAMaT. IKAMaT kembali menerima kunjungan dari mitra kerjanya di Sekretariat IKAMaT, kali ini dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kota Semarang. Kegiatan kunjungan ini dalam rangka berdiskusi mengenai Ekoteologi dalam kehidupan antar manusia dan lingkungan di sekitarnya. Pertemuan ini juga diharapkan dapat membuka kolaborasi mengenai program lingkungan di masa yang akan datang. (6/4/2026).
Foto bersama setelah diskusi dan pertemuan.
Ekoteologi adalah cabang teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama atau iman dengan lingkungan hidup. Dalam perspektif ini, pelestarian alam dipandang sebagai wujud ibadah sekaligus tanggung jawab moral manusia.
BDK Kota Semarang menyampaikan terima kasih atas sambutan yang telah diberikan. Diharapkan, diskusi ini dapat menjadi acuan serta sarana untuk saling bertukar informasi mengenai bidang yang berbeda dan menyempurnakan pengetahuan di bidang ekologi untuk BDK Kota Semarang, berdasarkan pengalaman dan program yang telah dilaksanakan oleh IKAMaT.
Lebih lanjut, Miftakhul Falah (BDK Kota Semarang) juga menyampaikan harapannya bahwa hasil diskusi ini dapat membuka kolaborasi lebih lanjut antara IKAMaT dan BDK Kota Semarang di masa yang akan datang berkaitan pentingnya menjaga lingkungan bagi orang yang beriman atau ekoteologi.
Kunjungan ini disambut langsung oleh Aris Priyono (Direktur Teknologi dan Informasi) dan Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan).
Dalam sesi diskusi, Aris menyampaikan mengenai profil IKAMaT dan IKAMaT, serta afiliasinya serta setiap unit bisnisnya yang bergerak dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove dan kesejahteraan masyarakat pesisir, yang kemudian diwujudkan melalui empat pilar IKAMaT, yaitu Pendampingan Penanaman dan Pemantauan, Riset dan Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pengembangan Industri Kreatif Mangrove.
Melalui keempat pilar ini, IKAMaT berupaya mewujudkan solusi alam yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak jangka panjang bagi ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat.
“IKAMaT merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove dan mewujudkan kemakmuran masyarakat di kawasan pesisir yang diwujudkan melalui empat pilar kami,” jelas Aris. “Empat pilar IKAMaT, antara lain penanaman dan pemantauan mangrove, pemberdayaan masyarakat pesisir, riset dan penelitian, dan pengembangan industri kreatif mangrove,” lanjutnya.
Kemudian, Agape juga menambahkan berbagai pengalamannya saat menjadi anggota KeSEMaT, sebagai salah satu afiliasi IKAMaT yang juga melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir, kemudian saat terjun langsung ke lapangan dan berdiskusi bersama masyarakat pesisir, khususnya dalam kegiatan rehabilitasi, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir.
Selain itu, IKAMaT beserta unit bisnis dan afiliasinya terus mendorong dan mendukung pengembangan industri kreatif berbasis mangrove sebagai sarana edukasi dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan keberlanjutan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Seluruh agenda diskusi dan pertemuan yang dimulai pada pukul 13.00 hingga selesai ini berjalan dengan baik dan lancar, yang diakhiri dengan foto bersama. (ADM/ARH/ALA/AP).