IKAMaT Hadiri Undangan Diseminasi Hasil Kajian Desain Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di 5 Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah

Semarang – IKAMaT. Desain Rehabilitasi Ekosistem Mangrove menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat perlindungan pesisir Jawa Tengah secara lebih terarah, berbasis kondisi ekologis, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir. (13/5/2026).

Diseminasi Desain Rehabilitasi ekosistem mangrove di Jawa Tengah yang dihadiri IKAMaT

Pembukaan penyampaian materi diseminasi hasil kajian desain rehabilitasi.

IKAMaT kembali menghadiri undangan, kali ini berkaitan dengan diseminasi hasil desain rehabilitasi ekosistem mangrove pada lima kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, di antaranya Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, dan Kota Semarang. Kegiatan diseminasi ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University bersama dengan Konsorsium FOCUS.

Diseminasi ini diselenggarakan untuk mendiskusikan, menyempurnakan, serta mendorong penerapan dan pengembangan hasil desain rehabilitasi ekosistem di beberapa titik lokasi program yang memadukan aspek teknis, ekologis, dan pengalaman di lapangan dari masyarakat untuk meningkatkan efikasi dari perlindungan pesisir.

Kajian tersebut dilaksanakan di sembilan desa pesisir yang menjadi lokasi Program FOCUS, yaitu Desa Bandungharjo dan Desa Balong di Kabupaten Jepara; Desa Morodemak, Desa Purworejo, Desa Timbulsloko, dan Desa Bedono di Kabupaten Demak; Kelurahan Tanjungmas di Kota Semarang; Desa Gempolsewu di Kabupaten Kendal; serta Desa Sengon di Kabupaten Batang.

Desain rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi lokasi setiap desa dengan model dan desain serta pemilihan spesies dalam rangka memperbesar nilai kelulushidupan dan keberhasilan dari upaya rehabilitasi yang dilaksanakan.

Desain Rehabilitasi Ekosistem Mangrove juga membantu menentukan strategi pemulihan yang lebih sesuai dengan karakter setiap wilayah pesisir.

Dalam kegiatan ini, IKAMaT diwakili oleh Alfian R. Hidayat (Staf Operasional Media). Acara tersebut turut dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain perwakilan lembaga pemerintah, akademisi, pihak swasta, kelompok masyarakat desa sasaran, serta Non-Governmental Organization (NGO).

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Ibis Styles, Simpang Lima, Semarang dengan jumlah tamu undangan sekitar 60 orang.

ikamat-hadiri-undangan-diseminasi-desain-rehabilitasi-ekosistem-mangrove-di-lima-kabupatenkota-jawa-tengah1

Penyampaian materi mengenai hasil kajian desain rehabilitasi.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dan pembukaan dari perwakilan dari Konsorsium FOCUS dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan beberapa materi, di antaranya pembukaan dan pengenalan kajian yang telah dilaksanakan, hasil kajian desain rehabilitasi ekosistem pesisir di sembilan desa Program FOCUS dengan memperhatikan lanskap pesisir dan pemilihan spesies, jasa ekosistem mangrove yang ditimbulkan dari upaya rehabilitasi, ruang lingkup rehabilitasi mangrove, dan upaya monitoring mangrove hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog dan diskusi dari materi yang telah disampaikan. Harapannya hasil diskusi tersebut dapat menjadi acuan dari tindak lanjut yang akan dilaksanakan oleh PKSPL IPB University dan Konsorsium FOCUS ke depannya.

Pendekatan rehabilitasi mangrove yang tepat tidak hanya bergantung pada kegiatan penanaman, tetapi juga pada pemahaman terhadap karakter tapak, dinamika hidrologi, jenis substrat, tekanan lingkungan, serta keterlibatan masyarakat setempat. Karena itu, penyusunan desain rehabilitasi perlu dilakukan secara hati-hati agar setiap lokasi mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan kondisi ekologisnya.

Melalui pembahasan ini, Desain Rehabilitasi Ekosistem Mangrove diharapkan tidak hanya menjadi dokumen teknis, tetapi juga menjadi rujukan lapangan dalam menentukan pendekatan rehabilitasi yang tepat. Setiap lokasi pesisir memiliki karakter berbeda, sehingga pemilihan spesies, pola tanam, pemantauan, dan pelibatan masyarakat perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

“IKAMaT dalam hal ini sangat mendukung program yang sedang dalam tahap diseminasi dan akan dijalankan ini, serta berharap dapat membantu upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah pantai utara Jateng yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, hal ini dikarenakan sejalan dengan visi misi IKAMaT, yaitu berupaya meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove yang merupakan salah satu ekosistem penting di pesisir,” kata Alfian. “Selain itu, IKAMaT juga mendukung upaya-upaya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dari jasa ekosistem mangrove yang ditimbulkan dari upaya rehabilitasi. Namun, kegiatan rehabilitasi dari desain yang telah dilakukan diseminasi harapannya dapat menyesuaikan kondisi lokasi dan faktor yang memengaruhinya,” tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB ini berjalan dengan lancar dan ditutup dengan penyampaian kesimpulan hasil pertemuan dan penutupan oleh Kepala DLHK Provinsi Jateng. (ADM/ARH/AP).