Kulon Progo – IKAMaT. IKAMaT kembali didaulat menjadi narasumber berkaitan dengan rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove. Kali ini, IKAMaT menyampaikan materi mengenai teknik penanaman mangrove untuk keberhasilan rehabilitasi mangrove. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai upaya peningkatan kapasitas kelompok masyarakat/tani dan instansi terkait di DIY mengenai ekosistem mangrove. (28–29/4/2026).
Agape sebagai narasumber dalam kegiatan pelatihan teknis mangrove.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari di Hotel Morazen, Kulon Progo, DIY yang diikuti oleh sekitar 50 peserta yang berasal dari kelompok masyarakat/tani yang berasal dari wilayah pesisir DIY dan sekitarnya serta instansi terkait ekosistem mangrove.
Dalam pelatihan ini, kegiatan terdiri atas beberapa pelatihan dan diskusi serta kegiatan penanaman mangrove bersama. Kegiatan di hari pertama berfokus pada penyampaian materi pelatihan dan praktik penyusunan usulan kegiatan program mangrove, sedangkan hari kedua berfokus pada upaya penanaman mangrove bersama di kawasan Mangrove Wisata Pasir Kadilangu, Kulon Progo, DIY.
IKAMaT diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) sebagai narasumber kedua yang menyampaikan materi mengenai pengertian ekosistem, manfaat, faktor pertumbuhan, dan praktik teknik rehabilitasi mangrove.
Kegiatan hari pertama dibuka oleh Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, dilanjutkan dengan sambutan dan arahan Ketua KKMD DIY sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY berkaitan dengan kebijakan pengelolaan mangrove di pesisir DIY.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pertama mengenai perencanaan rehabilitasi mangrove oleh Prof. Dr. Erny Poedjirahajoe, M.P. yang merupakan guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) bidang ekologi hutan, khususnya ekosistem mangrove.
Materi kedua disampaikan oleh Agape dari IKAMaT berkaitan dengan tema besar teknis rehabilitasi mangrove, khususnya pada teknik penanaman mangrove mulai dari pembibitan, persiapan lahan, hingga teknik penanaman mangrove.
Kegiatan penanaman mangrove bersama di kawasan Mangrove Wisata Pasir, Kadilangu, Kulon Progo, DIY.
“Ekosistem mangrove memiliki syarat hidup dan habitat yang perlu dipenuhi agar keberhasilan rehabilitasi mangrove dapat lebih optimal. Rehabilitasi mangrove dapat diawali dengan survei pendahuluan untuk menilai kesesuaian lokasi penanaman dengan syarat hidup dan habitat mangrove. Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi biofisik, seperti pasang surut, salinitas, pH, dan jenis tanah. Selain itu, terdapat juga kondisi non-biofisik, seperti kepemilikan dan peruntukan lahan serta dukungan masyarakat,” jelas Agape. “Selain itu, penanaman mangrove memiliki beberapa teknik yang disesuaikan dengan kondisi lokasi penanaman, seperti banjar harian, wanamina, rumpun berjarak, guludan, selongsong bambu, dan teknik lainnya. Hal ini dikarenakan karakteristik setiap wilayah memiliki perbedaan,” tambahnya.
Selanjutnya, pelatihan dilanjutkan dengan penyampaian materi ketiga dilanjutkan praktik pembuatan dan penyusunan usulan kegiatan/program mangrove oleh Yayasan Resiliensi Lingkungan (Relung) Indonesia. Materi yang disampaikan berkaitan dengan teknik dan proses monitoring mangrove setelah kegiatan penanaman selesai dilaksanakan.
Kegiatan hari pertama diakhiri dengan tanya jawab dan diskusi dari materi yang telah disampaikan oleh para narasumber.
Pada hari kedua, kegiatan yang dilaksanakan berupa penanaman mangrove secara langsung di kawasan Mangrove Wisata Pasir, Kadilangu, Kulon Progo, DIY. Para peserta terjun langsung untuk melaksanakan kegiatan penanaman sebagai upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan tersebut.
Kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses, serta ditutup dengan dokumentasi bersama dengan para peserta. (ADM/ARH/ALA/AP).