IKAMaT Hadiri Undangan Pelatihan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) dan Global Mangrove Watch (GMW) di Demak

Demak – IKAMaT. Pemantauan mangrove berbasis data menjadi bagian penting dalam mendukung perlindungan dan pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan. Untuk memperkuat kapasitas tersebut, IKAMaT menghadiri undangan Pelatihan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) dan pengenalan platform Global Mangrove Watch (GMW) yang diselenggarakan oleh Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah (YLBA) di Desa Wedung, Kabupaten Demak. (20–21/5/2026).

Pelatihan SMART dan GMW untuk pemantauan mangrove berbasis data di Demak.

Suasana pelatihan yang sedang berlangsung.

SMART dan GMW untuk Pemantauan Mangrove

SMART merupakan platform pengelolaan kawasan konservasi yang memiliki perangkat mobile, desktop, dan berbasis cloud untuk membantu pengumpulan, penyimpanan, visualisasi, analisis, serta pelaporan data konservasi. Teknologi tersebut dapat membantu proses pencatatan data lapangan menjadi lebih sistematis sekaligus mempermudah pengelola dalam mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan kawasan.

Sementara itu, GMW merupakan platform daring yang menyediakan data penginderaan jauh dan berbagai perangkat untuk memahami kondisi serta perubahan ekosistem mangrove di berbagai wilayah dunia. Informasi yang tersedia dapat digunakan oleh pengelola pesisir, praktisi konservasi, peneliti, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya untuk mendukung perlindungan dan restorasi mangrove.

Pemanfaatan teknologi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya pendekatan pemantauan mangrove berbasis data. Informasi lapangan dapat melengkapi data penginderaan jauh sehingga kondisi suatu kawasan dapat dianalisis dengan perspektif yang lebih komprehensif.

Pendekatan ini juga berkaitan erat dengan pengembangan pemetaan mangrove, Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, dan analisis spasial yang saat ini semakin banyak digunakan untuk memahami perubahan tutupan vegetasi, kondisi habitat, serta dinamika kawasan pesisir.

IKAMaT Ikuti Pelatihan SMART dan GMW di Demak

Dalam kegiatan ini, IKAMaT diwakili oleh Paspha G. M. Putra selaku Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan serta Bambang J. Laksono selaku Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan.

Pelatihan dilaksanakan di Kantor Muslimat Ranting Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak. Kegiatan turut dihadiri oleh berbagai pihak yang memiliki keterkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan ekosistem mangrove, antara lain perwakilan lembaga pemerintah, akademisi, pihak swasta, kelompok masyarakat di Demak, serta Non-Governmental Organization (NGO).

Pelatihan SMART dan GMW untuk pemantauan mangrove berbasis data di Demak.

Penyampaian materi oleh narasumber.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka di hari pertama dengan penyampaian pengenalan pengantar mengenai SMART dan GMW dan mencoba mengunduh serta memasang aplikasi GMW di gawai dan perangkat yang dibawa peserta yang disampaikan materinya oleh narasumber. Dilanjutkan dengan simulasi aplikasi yang telah diunduh dan dipasang.

Pada hari kedua, materi disampaikan berkaitan dengan pengantar praktik lapangan penggunaan SMART dan GMW. Kemudian dilanjutkan dengan transfer data dari SMART Mobile ke desktop untuk pembersihan dan validasi data.

“Kegiatan pelatihan ini memberikan pengetahuan baru bagi kami untuk mendukung pemantauan dan perlindungan ekosistem mangrove berbasis data, sehingga dapat memberikan hasil yang baik dan berkelanjutan,” jelas Bambang. “Semoga dengan adanya platform ini, pemantauan dan perlindungan ekosistem mangrove akan semakin terstruktur dan memudahkan bagi masyarakat luas untuk bersama-sama memantau keadaan ekosistem mangrove,” tambahnya.

Pendekatan pemantauan berbasis data juga sejalan dengan berbagai kegiatan yang dikembangkan dalam ekosistem IKAMaT. Mangrove Tag, misalnya, mengembangkan pemantauan berkala untuk melihat perkembangan hasil rehabilitasi dan penanaman mangrove.

Sementara itu, Mangrove Map berfokus pada survei, pemetaan, SIG, penginderaan jauh, serta analisis data spasial mangrove dan wilayah pesisir. Pengetahuan mengenai pemanfaatan citra satelit dalam memahami kondisi mangrove juga terus disebarluaskan melalui berbagai publikasi edukatif MANGROVEMAGZ.

Kegiatan yang diselenggarakan di dua hari dimulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini berjalan dengan lancar sebagai upaya dalam mendukung pemantauan dan perlindungan ekosistem mangrove secara efektif dan berkelanjutan.

Bagi IKAMaT, peningkatan kapasitas dalam pengumpulan dan pengelolaan data menjadi bagian penting dalam memperkuat pelaksanaan program mangrove. Data yang terdokumentasi dengan baik dapat membantu memahami perubahan kondisi kawasan, mengidentifikasi tantangan di lapangan, mengevaluasi program, serta menyusun rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat.

Ke depan, pemantauan mangrove membutuhkan integrasi antara observasi lapangan, teknologi geospasial, penginderaan jauh, partisipasi masyarakat, serta sistem pengelolaan data yang terstruktur.

Kombinasi berbagai pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan, rehabilitasi, dan pengelolaan ekosistem mangrove yang berbasis bukti serta mampu memberikan manfaat ekologis dan sosial secara berkelanjutan. (ADM/ARH//BJL/AP).