Silvofishery Mangrove merupakan pendekatan pengelolaan kawasan pesisir yang mengintegrasikan ekosistem mangrove dengan kegiatan akuakultur untuk menjaga fungsi ekologis sekaligus mendukung produktivitas dan penghidupan masyarakat pesisir. Bersama pendekatan Associated Mangrove Aquaculture (AMA), sistem ini menawarkan model pengelolaan lanskap mangrove–tambak yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Keduanya berangkat dari pemahaman bahwa kawasan mangrove dan tambak tidak selalu harus diposisikan sebagai dua bentuk penggunaan lahan yang saling bertentangan.
Melalui desain yang tepat, rehabilitasi mangrove, perlindungan pesisir, budidaya perikanan, kualitas lingkungan, dan ekonomi masyarakat dapat direncanakan dalam satu lanskap.
Namun, silvofishery dan AMA bukan istilah yang sama.
Silvofishery secara umum mengintegrasikan mangrove dan kegiatan budidaya perikanan dalam sistem tambak. Literatur yang dihimpun FAO mendeskripsikan silvofishery sebagai bentuk integrasi budidaya mangrove dengan akuakultur air payau dan mencatat sejumlah variasi desain yang berkembang di Indonesia.
Sementara itu, Associated Mangrove Aquaculture atau AMA dikembangkan dengan prinsip pemisahan fungsi yang lebih jelas: sebagian ruang dalam lanskap tambak dialokasikan kembali menjadi sabuk hijau mangrove yang terhubung dengan sungai, saluran, atau estuari, sementara kegiatan akuakultur tetap berlangsung pada bagian tambak yang berdekatan. Pendekatan tersebut diterapkan dalam program Building with Nature Indonesia di Demak, Jawa Tengah.
Prinsip utamanya adalah:
mangrove tetap berfungsi sebagai ekosistem, tambak tetap berfungsi sebagai ruang produksi, dan keduanya dikelola sebagai satu lanskap pesisir.
Apa Itu Silvofishery?
Silvofishery adalah sistem pengelolaan yang mengintegrasikan vegetasi mangrove dengan budidaya perikanan air payau dalam satu kawasan.
Pendekatan ini berkembang sebagai salah satu bentuk pemanfaatan mangrove yang berusaha mempertahankan sebagian fungsi vegetasi sekaligus memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan akuakultur.
Dalam praktiknya, komoditas budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya ikan, udang, atau kepiting.
Literatur mengenai silvofishery di Indonesia menunjukkan adanya berbagai konfigurasi desain, termasuk model yang secara historis dikenal sebagai empang parit, yaitu sistem tambak yang mempertahankan area vegetasi mangrove sekaligus menyediakan ruang perairan untuk budidaya.
Karena itu, silvofishery tidak hanya berbicara mengenai:
menanam mangrove di tambak.
Pendekatan ini seharusnya dilihat sebagai pengelolaan hubungan antara:
vegetasi mangrove + air + organisme budidaya + tambak + masyarakat.
Mengapa Silvofishery Dikembangkan?
Konversi mangrove menjadi tambak telah menjadi salah satu tekanan penting terhadap ekosistem pesisir.
Di sisi lain, akuakultur merupakan sumber penghidupan bagi banyak masyarakat.
Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan akan pendekatan yang mampu mempertahankan fungsi ekonomi kawasan tanpa sepenuhnya menghilangkan fungsi ekologis mangrove.
Silvofishery menjadi salah satu upaya untuk mencari titik temu tersebut.
Dalam kerangka ideal, keberadaan mangrove dapat mendukung berbagai fungsi seperti:
- penyediaan habitat;
- perlindungan biodiversitas;
- produksi serasah;
- interaksi dengan kualitas air;
- penyediaan habitat biota;
- penyimpanan karbon;
- perlindungan bagian tertentu dari lanskap pesisir; dan
- keberlanjutan fungsi ekologis tambak.
Sementara itu, ruang akuakultur tetap dapat digunakan untuk mendukung produksi perikanan dan ekonomi masyarakat.
Mangrove dan Tambak sebagai Satu Sistem
Tambak tidak berdiri sendiri.
Produktivitasnya dipengaruhi oleh kualitas air, salinitas, pertukaran pasang surut, kondisi saluran, kualitas tanah, sumber benih alami, vegetasi di sekitarnya, dan kondisi bentang alam pesisir.
Demikian pula, mangrove tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan pohon.
Mangrove berinteraksi dengan:
air, sedimen, nutrien, fauna, saluran pasang surut, dan aktivitas manusia.
Karena itu, silvofishery yang berkelanjutan perlu memandang mangrove dan akuakultur sebagai bagian dari sistem sosial-ekologis pesisir.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak mangrove harus ditanam di dalam tambak?”
Tetapi:
“Bagaimana mangrove dan tambak dapat ditempatkan serta dikelola sehingga fungsi ekologis dan produksi dapat berjalan secara optimal?”
Prinsip Silvofishery Mangrove
Silvofishery perlu dirancang berdasarkan karakteristik lokasi.
Mempertahankan Fungsi Ekologis Mangrove
Mangrove tidak hanya dipertahankan untuk memenuhi persentase tutupan tertentu.
Vegetasi harus memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh, beregenerasi, menerima pasang surut, dan menjalankan fungsi ekologisnya.
Hal ini membutuhkan perhatian terhadap:
- hidrologi;
- elevasi;
- jenis mangrove;
- regenerasi alami;
- kualitas substrat;
- salinitas;
- dan konektivitas dengan kawasan mangrove di sekitarnya.
Mempertahankan Fungsi Produksi Tambak
Kegiatan budidaya membutuhkan ruang terbuka, kualitas air yang sesuai, sirkulasi air, akses pengelolaan, dan kondisi perairan yang mendukung organisme budidaya.
Karena itu, desain silvofishery perlu mempertimbangkan kebutuhan ekologis mangrove sekaligus kebutuhan operasional akuakultur.
Menyesuaikan Desain dengan Kondisi Lokasi
Tidak terdapat satu bentuk silvofishery yang dapat diterapkan secara identik pada seluruh tambak.
Kondisi:
pasang surut, komoditas, ukuran tambak, elevasi, tanah, salinitas, vegetasi, sumber air, serta kebiasaan budidaya masyarakat
dapat berbeda antarlokasi.
Desain perlu mengikuti kondisi tersebut.
Melibatkan Petambak
Keberhasilan silvofishery sangat bergantung pada orang yang mengelola tambak.
Petambak perlu memahami mengapa mangrove dipertahankan, bagaimana pengelolaannya, serta bagaimana perubahan tata ruang tambak dapat memengaruhi produksi.
Karena itu, pendekatan silvofishery membutuhkan partisipasi dan penguatan kapasitas masyarakat, bukan hanya perubahan fisik tambak.
Tantangan Silvofishery
Silvofishery menawarkan integrasi antara mangrove dan akuakultur, tetapi bukan berarti penerapannya selalu sederhana.
Dalam beberapa konfigurasi, keberadaan mangrove di dalam area produksi dapat memengaruhi cara petambak mengelola tambak.
Tantangan dapat muncul terkait:
- distribusi ruang produksi;
- akses panen;
- sirkulasi air;
- akumulasi material organik;
- pemeliharaan tambak;
- kepadatan vegetasi;
- pilihan komoditas;
- serta persepsi petambak terhadap keberadaan mangrove.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan berkembangnya pendekatan Associated Mangrove Aquaculture (AMA).
Dalam panduan teknis Building with Nature, Wetlands International menyebut AMA sebagai alternatif terhadap beberapa sistem silvofishery yang dipraktikkan di Indonesia, dengan tujuan memisahkan fungsi mangrove dan area budidaya secara lebih efektif dalam satu lanskap.
Apa Itu Associated Mangrove Aquaculture (AMA)?
Associated Mangrove Aquaculture (AMA) adalah pendekatan yang menghubungkan kawasan mangrove dan akuakultur melalui pembagian ruang yang lebih jelas.
Dalam pendekatan AMA, sebagian area dari sistem tambak dialokasikan untuk membangun atau memulihkan sabuk hijau mangrove, terutama di sepanjang sungai, anak sungai, saluran air, atau kawasan estuari.
Tambak tetap berada di sebelah kawasan mangrove dan dikelola sebagai area produksi.
Wetlands International menjelaskan bahwa dalam sistem AMA, sebagian area tambak diberikan kembali untuk menciptakan ruang bagi riverine mangroves, sehingga sabuk hijau mangrove dapat dipulihkan sekaligus memberikan perlindungan kepada tambak yang berada di belakangnya.
Dengan demikian:
silvofishery cenderung mengintegrasikan mangrove dengan ruang budidaya
sedangkan:
AMA mengasosiasikan ruang mangrove dengan ruang akuakultur melalui pembagian fungsi yang lebih jelas.
Konsep Dasar Associated Mangrove Aquaculture
Prinsip AMA dapat digambarkan secara sederhana sebagai:
sungai / saluran → sabuk mangrove → tanggul → tambak produksi.
Mangrove ditempatkan pada bagian lanskap yang secara ekologis sesuai dan tetap memiliki hubungan dengan dinamika pasang surut.
Tambak berada di belakang atau berdekatan dengannya.
Pendekatan ini memungkinkan mangrove berkembang sebagai ekosistem yang relatif lebih utuh, sementara tambak mempertahankan ruang terbuka yang dibutuhkan untuk kegiatan budidaya.
Dalam proyek Building with Nature Indonesia, AMA diterapkan pada skala distrik di Demak sebagai bagian dari upaya menghubungkan restorasi mangrove dengan revitalisasi produktivitas akuakultur.
Sabuk Hijau Mangrove dalam AMA
Salah satu elemen penting dalam AMA adalah mangrove greenbelt atau sabuk hijau mangrove.
Sabuk mangrove dapat ditempatkan sepanjang:
- sungai;
- saluran pasang surut;
- anak sungai;
- tepian tambak;
- serta bagian lanskap lain yang sesuai secara ekologis.
Menurut panduan Wetlands International, sabuk hijau mangrove di sepanjang sungai dan saluran dapat menjalankan berbagai fungsi ekosistem, termasuk meredam gelombang, membantu membangun sedimen, melindungi tanggul tanah tradisional di sekitar sungai dan tambak, serta mendukung perikanan dan kualitas air.
Mangrove dengan demikian bukan hanya menjadi pohon yang ditambahkan ke dalam sistem budidaya.
Mangrove menjadi infrastruktur ekologis dalam lanskap tambak.
Perbedaan Silvofishery dan AMA
Meskipun sama-sama menghubungkan mangrove dengan akuakultur, silvofishery dan AMA memiliki logika spasial yang berbeda.
Silvofishery
Dalam berbagai model silvofishery, mangrove dan budidaya berada dalam satu unit tambak atau sangat terintegrasi secara fisik.
Mangrove dapat berada di tengah, sepanjang bagian tertentu, maupun mengikuti bentuk desain tambak.
Associated Mangrove Aquaculture
Dalam AMA, fungsi mangrove dan produksi lebih dipisahkan secara spasial tetapi tetap berhubungan dalam satu lanskap.
Mangrove diarahkan untuk membentuk sabuk hijau yang dapat berkembang sebagai ekosistem, sementara bagian tambak tetap difokuskan untuk kegiatan akuakultur.
Dengan demikian, keduanya dapat dipahami sebagai:
Silvofishery → integrasi mangrove di dalam sistem budidaya
AMA → asosiasi mangrove dan tambak dalam satu lanskap dengan pembagian fungsi yang lebih jelas
Perbedaan tersebut penting karena pendekatan yang tepat perlu disesuaikan dengan kondisi ekologis, tata ruang, sosial, dan kebutuhan produksi di masing-masing lokasi.
AMA dalam Building with Nature
Associated Mangrove Aquaculture memiliki hubungan erat dengan Building with Nature (BwN).
Dalam proyek Building with Nature Indonesia di Demak, AMA tidak diterapkan sebagai intervensi tunggal.
Pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi lanskap yang lebih luas untuk menghubungkan:
rehabilitasi pesisir + restorasi mangrove + perlindungan tambak + akuakultur berkelanjutan + masyarakat pesisir.
Wetlands International menjelaskan bahwa AMA direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan untuk mengintegrasikan restorasi mangrove dan pengelolaan akuakultur dalam rangka mendukung adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, dan pengembangan ekonomi biru.
Dengan demikian, AMA bukan sekadar teknik tata letak tambak.
AMA merupakan bagian dari pengelolaan lanskap pesisir yang lebih terintegrasi.
Silvofishery, AMA, dan Ecological Mangrove Rehabilitation
Silvofishery, AMA, dan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) memiliki hubungan, tetapi fungsi utamanya berbeda.
EMR berfokus pada:
pemulihan proses ekologis mangrove.
Prioritasnya adalah memahami hidrologi, kondisi lokasi, penyebab degradasi, dan regenerasi alami.
Silvofishery berfokus pada:
integrasi mangrove dan akuakultur dalam sistem produksi.
Sedangkan AMA berfokus pada:
pengaturan lanskap agar sabuk mangrove dan tambak produksi dapat berjalan berdampingan dan saling mendukung.
Dalam praktiknya, prinsip EMR dapat digunakan ketika membangun atau memulihkan area mangrove dalam sistem silvofishery maupun AMA.
Artinya, mangrove tetap perlu ditempatkan berdasarkan:
elevasi, hidrologi, spesies, zonasi, sumber propagul, dan kesesuaian ekologis.
Bukan hanya berdasarkan ketersediaan ruang.
Silvofishery dan AMA Tidak Berarti Menanam Mangrove Sembarangan di Tambak
Kesalahan yang perlu dihindari adalah menganggap bahwa seluruh tambak dapat diubah menjadi silvofishery hanya dengan menanam bibit mangrove sebanyak mungkin.
Pendekatan tersebut dapat menimbulkan konflik dengan kebutuhan budidaya dan belum tentu menghasilkan ekosistem mangrove yang sehat.
Sebelum melakukan intervensi perlu dipahami:
Bagaimana sistem pasang surut bekerja?
Bagaimana air masuk dan keluar dari tambak?
Bagian mana yang sesuai untuk mangrove?
Bagian mana yang diperlukan untuk produksi?
Apakah mangrove dapat beregenerasi secara alami?
Bagaimana kebutuhan petambak?
Apa komoditas yang dibudidayakan?
Bagaimana status dan penggunaan lahan?
Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk memilih apakah suatu lokasi lebih sesuai menggunakan:
silvofishery, AMA, rehabilitasi mangrove, restorasi hidrologi, atau kombinasi beberapa pendekatan.
Akuakultur Berkelanjutan dan Mangrove
Integrasi antara mangrove dan budidaya perikanan memiliki potensi yang lebih besar ketika ditempatkan dalam kerangka sustainable aquaculture.
Tujuannya bukan hanya mempertahankan hasil produksi dalam satu musim.
Pengelolaan perlu memperhatikan:
- kualitas air;
- kualitas tanah;
- penggunaan input;
- kepadatan budidaya;
- kesehatan organisme;
- penggunaan pakan;
- pengelolaan limbah;
- efisiensi produksi;
- kondisi saluran;
- serta kesehatan ekosistem sekitar.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan tidak hanya dinilai melalui:
berapa kilogram ikan atau udang yang dipanen.
Tetapi juga:
apakah tambak dapat terus produktif tanpa memperbesar tekanan terhadap ekosistem mangrove.
Silvofishery dan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Salah satu alasan utama pentingnya pendekatan ini adalah karena rehabilitasi mangrove berlangsung di kawasan yang juga merupakan ruang hidup dan ruang produksi masyarakat.
Banyak keluarga bergantung pada tambak untuk memperoleh penghasilan.
Karena itu, rehabilitasi yang mengabaikan kebutuhan penghidupan masyarakat berpotensi menghadapi tantangan sosial dalam jangka panjang.
Silvofishery maupun AMA menawarkan kerangka untuk mencari keseimbangan antara:
konservasi dan produksi
ekologi dan ekonomi
pemulihan ekosistem dan mata pencaharian.
Dalam proyek Building with Nature Indonesia, AMA bahkan dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun mangrove-based economy yang menghubungkan pemulihan mangrove dengan revitalisasi akuakultur.
Manfaat Ekologis yang Diharapkan
Apabila dirancang dengan tepat, keberadaan mangrove dalam lanskap akuakultur dapat membantu mempertahankan berbagai jasa ekosistem.
Manfaat yang dapat menjadi sasaran pengelolaan meliputi:
- habitat biota;
- biodiversitas;
- konektivitas ekosistem;
- perlindungan tanggul;
- sedimentasi;
- pengaturan kualitas lingkungan;
- penyimpanan karbon;
- habitat pembesaran biota;
- serta perlindungan kawasan pesisir.
Namun, manfaat tersebut tidak muncul otomatis hanya karena terdapat pohon mangrove di sekitar tambak.
Kondisi vegetasi, luas, lokasi, struktur tegakan, hidrologi, kualitas lingkungan, dan konektivitas ekologis tetap menentukan fungsi yang dapat berkembang.
Tahapan Pengembangan Silvofishery dan AMA
Implementasi perlu didasarkan pada asesmen lokasi.
1. Identifikasi Kondisi Tambak
Tahap awal meliputi pengamatan:
- luas dan bentuk tambak;
- kondisi tanggul;
- saluran air;
- pintu air;
- kedalaman;
- elevasi;
- komoditas;
- produktivitas;
- serta sistem budidaya.
2. Identifikasi Kondisi Mangrove
Kajian dilakukan terhadap:
- spesies mangrove;
- kerapatan;
- regenerasi alami;
- kondisi tegakan;
- sumber propagul;
- zonasi;
- dan distribusi vegetasi.
3. Analisis Hidrologi
Hidrologi menentukan keberhasilan mangrove sekaligus kegiatan akuakultur.
Perlu dipahami:
pasang surut, pola masuk-keluar air, salinitas, lama genangan, konektivitas saluran, serta hubungan tambak dengan sungai atau laut.
4. Identifikasi Aspek Sosial dan Pengelolaan
Kajian perlu memahami:
- status lahan;
- pengelola tambak;
- kelompok masyarakat;
- pola produksi;
- kebutuhan ekonomi;
- persepsi terhadap mangrove;
- dan kesediaan melakukan perubahan pengelolaan.
5. Menentukan Model Pengelolaan
Berdasarkan hasil asesmen dapat ditentukan apakah lokasi lebih sesuai untuk:
silvofishery, Associated Mangrove Aquaculture, rehabilitasi mangrove, perbaikan hidrologi, atau pendekatan lainnya.
6. Menyusun Desain Lanskap
Desain tidak hanya menentukan lokasi pohon.
Perlu dirancang hubungan antara:
area mangrove, tambak produksi, tanggul, saluran, pintu air, jalur akses, dan kawasan di sekitarnya.
7. Implementasi Bertahap
Perubahan sistem tambak sebaiknya dilakukan secara terencana agar risiko ekologis dan ekonomi dapat dikelola.
8. Monitoring dan Evaluasi
Hasil implementasi dipantau untuk memahami perkembangan ekologi dan produksi.
Monitoring Silvofishery dan AMA
Keberhasilan pendekatan perlu dilihat dari dua sisi sekaligus:
ekologi dan produksi.
Indikator Mangrove
Pemantauan dapat mencakup:
- survival rate;
- pertumbuhan;
- regenerasi alami;
- kerapatan;
- komposisi spesies;
- tutupan tajuk;
- kesehatan vegetasi;
- dan perkembangan habitat.
Indikator Akuakultur
Pemantauan dapat meliputi:
- produksi;
- produktivitas;
- kelangsungan hidup organisme budidaya;
- kualitas air;
- kualitas tanah;
- input;
- biaya produksi;
- dan pendapatan.
Indikator Hidrologi
Dapat mencakup:
- pasang surut;
- salinitas;
- sirkulasi air;
- kondisi saluran;
- durasi genangan;
- serta konektivitas.
Indikator Sosial
Dapat meliputi:
- keterlibatan petambak;
- penerimaan masyarakat;
- perubahan praktik pengelolaan;
- kapasitas kelompok;
- manfaat ekonomi;
- dan keberlanjutan pengelolaan.
Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa keberhasilan tidak hanya dinilai dari:
berapa banyak mangrove ditanam
atau hanya dari:
berapa besar hasil panen.
Keberhasilan perlu mencerminkan kesehatan sistem secara keseluruhan.
Silvofishery dan Karbon Mangrove
Keberadaan mangrove dalam lanskap tambak juga memiliki relevansi terhadap penyimpanan karbon.
Penelitian yang dihimpun CIFOR-ICRAF menunjukkan bahwa penggunaan lahan yang masih mempertahankan mangrove, termasuk hutan mangrove dan sistem silvofishery, dapat mempertahankan stok karbon lebih tinggi dibandingkan penggunaan lahan yang kehilangan komponen mangrove.
Namun, keberadaan mangrove dalam silvofishery tidak otomatis menjadikan suatu tambak sebagai proyek kredit karbon.
Klaim karbon membutuhkan metodologi tersendiri, baseline, additionality, pengukuran stok atau perubahan emisi, pengelolaan ketidakpastian, risiko permanensi, serta proses verifikasi sesuai skema yang digunakan.
Karena itu, manfaat karbon pada silvofishery lebih tepat diposisikan terlebih dahulu sebagai co-benefit ekologis kecuali telah dilakukan kajian karbon yang memenuhi standar yang relevan.
Silvofishery dan Ketahanan Pesisir
Dalam lanskap pesisir, tambak juga membutuhkan perlindungan dari perubahan lingkungan.
Erosi, kerusakan tanggul, banjir pesisir, perubahan salinitas, dan degradasi kualitas air dapat memengaruhi produktivitas.
Pendekatan AMA secara khusus menempatkan sabuk hijau mangrove sebagai bagian dari perlindungan lanskap tambak.
Wetlands International menjelaskan bahwa sabuk hijau mangrove dapat membantu meredam gelombang, meningkatkan sedimentasi, dan memberikan perlindungan bagi tanggul tanah di sekitar tambak serta saluran.
Dalam konteks tersebut:
mangrove bukan pesaing tambak.
Mangrove dapat menjadi bagian dari sistem pendukung keberlanjutan tambak.
Silvofishery/AMA dalam Pendekatan IKAMaT
IKAMaT memandang silvofishery dan Associated Mangrove Aquaculture sebagai pendekatan pengelolaan lanskap mangrove–tambak yang perlu didasarkan pada kondisi ekologis, hidrologis, sosial, dan ekonomi setiap lokasi.
Pendekatan tidak dimulai dengan kewajiban menanam mangrove di seluruh bagian tambak.
Tahap awal perlu diarahkan pada:
asesmen kondisi tambak → identifikasi vegetasi → analisis hidrologi → pemetaan penggunaan lahan → identifikasi kebutuhan petambak → analisis kesesuaian → penentuan model pengelolaan → monitoring.
Model yang dipilih dapat berbeda antarlokasi.
Pada suatu kawasan, integrasi silvofishery dapat relevan.
Di lokasi lain, Associated Mangrove Aquaculture dengan pemisahan ruang mangrove dan tambak dapat lebih sesuai.
Pada lokasi yang mengalami gangguan ekologis berat, rehabilitasi hidrologi atau Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) dapat menjadi prioritas terlebih dahulu.
Sedangkan pada lanskap yang menghadapi masalah erosi pesisir, pendekatan dapat dikombinasikan dengan Building with Nature atau Hybrid Engineering apabila hasil kajian menunjukkan kebutuhan tersebut.
Prinsipnya:
metode mengikuti kondisi ekologis dan kebutuhan masyarakat, bukan masyarakat serta lokasi dipaksakan mengikuti satu model.
Silvofishery, AMA, dan Pemulihan Lanskap Pesisir
Pengelolaan mangrove yang berkelanjutan membutuhkan cara pandang yang lebih luas daripada sekadar menentukan lokasi penanaman.
Mangrove merupakan bagian dari bentang alam yang juga mencakup:
tambak, sungai, saluran, permukiman, laut, lahan produksi, masyarakat, dan berbagai aktivitas ekonomi.
Karena itu, pemulihan ekosistem perlu mempertimbangkan bagaimana seluruh komponen tersebut saling berhubungan.
Silvofishery dan AMA menawarkan dua pendekatan untuk membangun hubungan tersebut.
Silvofishery mengintegrasikan mangrove dengan sistem budidaya.
AMA menghubungkan mangrove dan budidaya melalui pengaturan ruang dalam satu lanskap.
Keduanya memiliki tujuan yang sama:
membangun keseimbangan yang lebih baik antara fungsi ekologis mangrove dan produktivitas masyarakat pesisir.
Pertanyaan tentang Silvofishery dan AMA
Apakah Silvofishery Sama dengan AMA?
Tidak.
Silvofishery umumnya mengintegrasikan mangrove dan budidaya dalam satu unit tambak.
AMA menggunakan pembagian ruang yang lebih jelas antara sabuk hijau mangrove dan area produksi akuakultur, tetapi keduanya tetap berhubungan dalam satu lanskap.
Apa Kepanjangan AMA?
AMA merupakan singkatan dari Associated Mangrove Aquaculture.
Pendekatan tersebut digunakan dalam Building with Nature Indonesia untuk menghubungkan restorasi sabuk mangrove dengan pengelolaan tambak yang berkelanjutan.
Apakah Semua Tambak Cocok untuk Silvofishery?
Tidak.
Kelayakan perlu dinilai berdasarkan kondisi hidrologi, elevasi, salinitas, sistem budidaya, ukuran tambak, kondisi mangrove, status lahan, dan kebutuhan masyarakat.
Apakah Silvofishery Harus Menanam Mangrove di Tengah Tambak?
Tidak.
Terdapat berbagai desain silvofishery dan tidak semuanya harus mengikuti pola yang sama.
Model perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi dan kebutuhan budidaya. Literatur mengenai silvofishery Indonesia mencatat beberapa konfigurasi pengelolaan tambak dan mangrove.
Apa Keunggulan AMA?
Salah satu karakteristik AMA adalah pemisahan yang lebih jelas antara area mangrove dan area produksi.
Mangrove dapat membentuk sabuk hijau yang lebih terkoneksi, sementara kegiatan akuakultur tetap memperoleh ruang produksi yang relatif terbuka. Dalam implementasi Demak, pendekatan ini digunakan untuk menggabungkan restorasi mangrove dengan revitalisasi akuakultur.
Apakah Silvofishery dan AMA Termasuk Rehabilitasi Mangrove?
Keduanya dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi dan pengelolaan mangrove apabila digunakan untuk mempertahankan atau mengembalikan vegetasi mangrove.
Namun, rehabilitasi ekologis tetap membutuhkan asesmen kesesuaian lokasi, hidrologi, spesies, regenerasi alami, dan penyebab degradasi.
Apakah Silvofishery Bisa Menghasilkan Kredit Karbon?
Tidak otomatis.
Keberadaan mangrove dapat memberikan manfaat penyimpanan karbon, tetapi penerbitan kredit karbon memerlukan metodologi, baseline, additionality, monitoring, verifikasi, serta persyaratan lain sesuai standar yang digunakan.
Dari Konflik Penggunaan Lahan Menuju Lanskap yang Terintegrasi
Silvofishery dan Associated Mangrove Aquaculture mengubah cara kita memandang hubungan antara mangrove dan tambak.
Pertanyaannya tidak harus selalu:
“Mangrove atau tambak?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah:
“Bagaimana mangrove dan tambak dapat dikelola agar fungsi ekologis dan ekonomi tetap berjalan?”
Jawabannya tidak selalu sama.
Di suatu lokasi, silvofishery mungkin menjadi pilihan.
Di tempat lain, AMA mungkin lebih sesuai.
Pada lokasi lain, pengembalian penuh menjadi ekosistem mangrove dapat menjadi solusi terbaik.
Karena itu, keputusan harus dimulai dari data, kondisi ekologis, sejarah penggunaan lahan, hidrologi, kebutuhan masyarakat, dan tujuan pengelolaan kawasan.
Pendekatan yang tepat bukan yang menanam mangrove sebanyak mungkin di dalam tambak.
Pendekatan yang tepat adalah yang mampu membangun:
mangrove yang sehat, tambak yang produktif, masyarakat yang memperoleh manfaat, dan lanskap pesisir yang lebih tangguh.
Kolaborasi Silvofishery dan AMA bersama IKAMaT
IKAMaT membuka ruang kolaborasi dalam asesmen tambak dan mangrove, kajian kesesuaian lokasi, pemetaan, analisis hidrologi, rehabilitasi mangrove, perencanaan silvofishery, pengembangan Associated Mangrove Aquaculture, penguatan masyarakat, serta monitoring ekologi dan sosial-ekonomi kawasan pesisir.
Pendekatan dapat diintegrasikan dengan:
Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR), Building with Nature, Hybrid Engineering, dan Pemantauan Ekosistem Mangrove.
Setiap lokasi membutuhkan desain yang berbeda.
Bukan sekadar memasukkan mangrove ke dalam tambak, tetapi menempatkan mangrove dan akuakultur pada ruang yang tepat agar keduanya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Konsultasikan kebutuhan pengelolaan tambak, rehabilitasi mangrove, dan pengembangan lanskap pesisir berkelanjutan bersama IKAMaT.
Referensi
Wetlands International. Technical Guidelines: Associated Mangrove Aquaculture Farms. Panduan teknis mengenai AMA dalam Building with Nature Indonesia, termasuk pembentukan sabuk hijau mangrove yang terhubung dengan lanskap tambak dan pemisahan fungsi mangrove–akuakultur.
Wetlands International. Associated Mangrove Aquaculture (AMA) to Build Coastal Resilience and a Blue Economy. Policy brief mengenai AMA sebagai pendekatan untuk menghubungkan restorasi mangrove, akuakultur, adaptasi iklim, pengurangan risiko bencana, dan ekonomi biru.
FAO AGRIS. Integrated Mangrove Forest and Aquaculture Systems in Indonesia. Referensi mengenai perkembangan silvofishery sebagai integrasi vegetasi mangrove dan akuakultur air payau serta variasi desainnya di Indonesia.
CIFOR-ICRAF. Silvo-fishery & Carbon. Materi pengetahuan mengenai hubungan pengelolaan silvofishery, mangrove, dan manfaat iklim.