Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) merupakan pendekatan rehabilitasi mangrove yang mengintegrasikan pemulihan proses ekologis, perbaikan kondisi hidrologi, regenerasi alami, pengetahuan lokal, dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam satu proses yang saling terhubung.
Pendekatan ini menempatkan rehabilitasi mangrove bukan sekadar sebagai kegiatan menanam bibit, tetapi sebagai proses untuk memulihkan kondisi lingkungan yang memungkinkan ekosistem mangrove tumbuh, berkembang, dan beregenerasi secara alami dalam jangka panjang.
Dalam praktik internasional, CBEMR juga dikenal sebagai Community-Based Ecological Mangrove Restoration. Pendekatan tersebut dikembangkan dan diterapkan dalam berbagai kegiatan restorasi mangrove dengan menggabungkan ilmu ekologi, pemahaman hidrologi, pengetahuan lokal, serta partisipasi masyarakat. Mangrove Action Project menempatkan CBEMR sebagai pendekatan kolaboratif berbasis sains untuk meningkatkan keberhasilan pemulihan mangrove.
Bagi IKAMaT, rehabilitasi ekosistem mangrove perlu dimulai dengan memahami ekosistem sebelum menentukan bentuk intervensi. Penanaman dapat menjadi bagian dari rehabilitasi, tetapi bukan selalu menjadi langkah pertama maupun satu-satunya solusi.
Apa Itu Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation?
Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation adalah pendekatan yang menggabungkan dua komponen utama, yaitu pemulihan ekologis mangrove dan keterlibatan masyarakat dalam proses rehabilitasi serta pengelolaan ekosistem.
Pendekatan ekologis berupaya memahami terlebih dahulu faktor yang menyebabkan mangrove mengalami degradasi atau gagal beregenerasi. Faktor tersebut dapat berkaitan dengan perubahan hidrologi, terputusnya konektivitas pasang surut, perubahan elevasi, kondisi substrat, terbatasnya sumber propagul, perubahan penggunaan lahan, maupun tekanan antropogenik lainnya.
Sementara itu, pendekatan berbasis masyarakat menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai tenaga pelaksana penanaman, tetapi sebagai aktor penting dalam identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, pemantauan, evaluasi, dan pengelolaan kawasan mangrove.
Studi CBEMR di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat dapat dikembangkan dari rehabilitasi pada skala kecil hingga skala yang lebih luas dengan menggabungkan pemulihan ekologi dan pengelolaan kolaboratif.
Rehabilitasi Mangrove Bukan Sekadar Menanam
Salah satu prinsip penting dalam Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation adalah memahami bahwa kerusakan mangrove tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah bibit.
Mangrove merupakan ekosistem intertidal yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh pasang surut, hidrologi, elevasi, sedimentasi, salinitas, karakteristik substrat, ketersediaan propagul, serta hubungan antara daratan dan perairan pesisir.
Apabila faktor utama yang menghambat pertumbuhan mangrove belum diperbaiki, kegiatan penanaman dapat menghadapi risiko kegagalan meskipun dilaksanakan dengan jumlah bibit yang besar.
Karena itu, CBEMR mengarahkan rehabilitasi untuk terlebih dahulu menjawab pertanyaan mendasar:
Mengapa mangrove tidak dapat tumbuh atau beregenerasi secara alami di lokasi tersebut?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang sesuai.
Global Mangrove Alliance menjelaskan bahwa pendekatan restorasi mangrove ekologis bergerak dari pola penanaman monokultur menuju pemulihan hidrologi dan kondisi lingkungan yang memungkinkan mangrove tumbuh kembali secara alami.
Prinsip Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation
CBEMR menempatkan fungsi ekosistem dan keberlanjutan pemulihan sebagai tujuan utama. Oleh karena itu, rehabilitasi tidak dimulai dari target jumlah bibit, tetapi dari pemahaman terhadap kondisi ekologis dan sosial lokasi.
Memahami Ekologi Mangrove
Tahap awal adalah memahami karakteristik ekosistem mangrove pada lokasi yang akan direhabilitasi.
Kajian dapat mencakup komposisi dan distribusi spesies, zonasi mangrove, regenerasi alami, kondisi tegakan, karakteristik substrat, salinitas, elevasi, pasang surut, serta sumber propagul.
Setiap spesies mangrove memiliki toleransi yang berbeda terhadap kondisi lingkungan. Karena itu, pemilihan spesies tidak semestinya dilakukan hanya berdasarkan ketersediaan bibit, tetapi perlu mempertimbangkan kesesuaian ekologis lokasi.
Memahami Hidrologi
Hidrologi merupakan salah satu elemen penting dalam rehabilitasi mangrove berbasis ekologi.
Perubahan aliran air akibat tanggul, tambak, jalan, kanal, sedimentasi, abrasi, atau perubahan bentang alam dapat mengubah frekuensi dan durasi genangan pada suatu kawasan.
Pada kondisi tertentu, perbaikan konektivitas hidrologi dapat memberikan dampak yang lebih mendasar dibandingkan penanaman langsung.
Pelatihan CBEMR di Indonesia yang dilakukan Mangrove Action Project bersama Global Mangrove Alliance juga menempatkan penilaian hidrologi, kesesuaian lokasi, pemetaan kondisi lapangan, dan penyusunan strategi restorasi spesifik lokasi sebagai bagian penting dalam pendekatan tersebut.
Mengidentifikasi Penyebab Degradasi
Rehabilitasi yang efektif perlu menjawab akar penyebab kerusakan ekosistem.
Penyebab degradasi dapat berbeda pada setiap lokasi. Suatu kawasan mungkin mengalami gangguan hidrologi, sedangkan kawasan lain menghadapi tekanan akibat konversi lahan, abrasi, perubahan sedimentasi, aktivitas budidaya, atau eksploitasi sumber daya.
Dengan mengetahui penyebab utama degradasi, intervensi dapat dirancang secara lebih tepat dan efisien.
Mendorong Regenerasi Alami
Salah satu karakteristik utama CBEMR adalah memberikan ruang bagi regenerasi alami mangrove.
Apabila kondisi hidrologi, elevasi, substrat, sumber propagul, dan tekanan lingkungan telah mendukung, propagul mangrove dapat masuk ke kawasan melalui mekanisme alami dan membentuk regenerasi baru.
Dalam kondisi tersebut, tugas rehabilitasi bukan selalu menanam sebanyak mungkin pohon, tetapi memulihkan kondisi yang memungkinkan proses ekologis bekerja kembali.
Melakukan Penanaman Jika Diperlukan
CBEMR bukan pendekatan yang melarang penanaman mangrove.
Penanaman tetap dapat dilakukan ketika hasil asesmen menunjukkan bahwa regenerasi alami belum memadai, sumber propagul terbatas, atau terdapat kebutuhan pengayaan pada bagian tertentu dari kawasan.
Perbedaannya terletak pada dasar pengambilan keputusan.
Dalam CBEMR, penanaman dilakukan berdasarkan kebutuhan ekologis dan kesesuaian lokasi, bukan hanya berdasarkan target jumlah bibit.
Masyarakat sebagai Bagian dari Ekosistem
Kata community-based dalam Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation memiliki posisi yang sangat penting.
Masyarakat pesisir memiliki pengalaman, pengetahuan, serta hubungan langsung dengan kawasan mangrove. Mereka memahami perubahan garis pantai, dinamika tambak, pola pasang surut, lokasi sedimentasi, sumber ikan, pemanfaatan kawasan, hingga perubahan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Pengetahuan tersebut dapat menjadi informasi penting untuk melengkapi data ilmiah.
Karena itu, masyarakat idealnya dilibatkan sejak tahap awal dalam identifikasi kondisi kawasan, pemetaan masalah, penyusunan rencana rehabilitasi, implementasi kegiatan, pemantauan, dan pengelolaan pascarehabilitasi.
Pendekatan ini juga membantu membangun rasa kepemilikan terhadap proses rehabilitasi sehingga kegiatan tidak berhenti setelah penanaman atau berakhirnya suatu proyek.
Mangrove Action Project mendeskripsikan CBEMR sebagai program yang dipimpin dan disesuaikan dengan kondisi komunitas serta lokasi, dengan tujuan membangun kemampuan untuk mendukung restorasi ekologis jangka panjang sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Tahapan Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation
Penerapan CBEMR perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap kawasan. Tidak terdapat satu desain rehabilitasi yang dapat diterapkan secara identik pada seluruh ekosistem mangrove.
1. Identifikasi Kondisi Ekologis
Tahap awal dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekosistem, antara lain:
kondisi vegetasi mangrove, spesies yang tumbuh secara alami, struktur tegakan, regenerasi alami, kondisi substrat, hidrologi, salinitas, elevasi, pasang surut, penggunaan lahan, serta tekanan terhadap kawasan.
2. Identifikasi Permasalahan dan Penyebab Degradasi
Data ekologis kemudian digunakan untuk memahami faktor yang menghambat regenerasi mangrove.
Analisis ini penting karena gejala kerusakan tidak selalu menunjukkan penyebab utama kerusakan.
3. Analisis Hidrologi dan Konektivitas
Pola pergerakan air dianalisis untuk memahami hubungan antara lokasi dengan sistem pasang surut dan bentang alam di sekitarnya.
Apabila terdapat gangguan hidrologi, dapat dirancang intervensi untuk memperbaiki konektivitas air secara bertahap dan sesuai kondisi lapangan.
4. Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan
Masyarakat, pemerintah, pengelola kawasan, kelompok lokal, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dapat dilibatkan untuk memahami aspek sosial, penguasaan lahan, pemanfaatan kawasan, serta keberlanjutan pengelolaan.
5. Penyusunan Desain Rehabilitasi
Berdasarkan hasil asesmen, ditentukan bentuk intervensi yang paling sesuai.
Intervensi dapat berupa pemulihan hidrologi, pengurangan gangguan, pembukaan kembali konektivitas pasang surut, perlindungan regenerasi alami, pengayaan, maupun penanaman terbatas apabila diperlukan.
6. Implementasi dan Pengelolaan Adaptif
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap dan responsif terhadap perubahan kondisi lapangan.
Pendekatan adaptif penting karena ekosistem pesisir bersifat dinamis.
7. Pemantauan dan Evaluasi
Keberhasilan rehabilitasi perlu dievaluasi menggunakan indikator yang lebih luas daripada jumlah bibit yang tertanam.
Indikator Keberhasilan Rehabilitasi Mangrove
Dalam pendekatan ekologis, keberhasilan tidak hanya dinilai dari survival rate bibit yang ditanam.
Pemantauan dapat mencakup beberapa indikator, antara lain tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, regenerasi alami, perubahan struktur vegetasi, perkembangan tutupan tajuk, kondisi hidrologi, sedimentasi, biodiversitas, serta perubahan fungsi ekologis kawasan.
Pendekatan tersebut membantu melihat apakah ekosistem benar-benar bergerak menuju kondisi yang lebih stabil dan mampu mempertahankan proses regenerasinya.
Dengan demikian, rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada pertanyaan:
“Berapa pohon yang berhasil ditanam?”
Tetapi berkembang menjadi:
“Apakah proses ekologis ekosistem mangrove mulai pulih dan dapat berlangsung secara berkelanjutan?”
CBEMR dan Ketahanan Ekosistem Pesisir
Mangrove merupakan bagian penting dari sistem sosial-ekologis pesisir.
Pemulihan mangrove yang tepat dapat mendukung perlindungan pesisir, habitat berbagai biota, produktivitas perikanan, penyimpanan karbon, serta berbagai jasa ekosistem yang dimanfaatkan masyarakat pesisir.
Karena itu, tujuan CBEMR lebih luas daripada membentuk tegakan mangrove baru.
Tujuannya adalah membantu membangun kembali ekosistem mangrove yang berfungsi, beragam, adaptif, dan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.
Pendekatan berbasis komunitas juga menghubungkan dimensi ekologis tersebut dengan kebutuhan sosial dan sistem pengelolaan kawasan.
FAO mendeskripsikan CBEMR sebagai pendekatan untuk membangun kembali ekosistem pesisir yang lebih beragam dan resilien dengan partisipasi masyarakat.
Pendekatan CBEMR dalam Rehabilitasi Mangrove IKAMaT
IKAMaT memandang rehabilitasi mangrove sebagai proses berbasis ekosistem, bukan sekadar kegiatan penanaman.
Setiap lokasi memiliki karakteristik biofisik, hidrologi, tekanan lingkungan, penggunaan lahan, serta kondisi sosial yang berbeda. Oleh karena itu, intervensi rehabilitasi perlu dirancang berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan spesifik lokasi.
Pendekatan tersebut mencakup identifikasi kondisi awal, kajian kesesuaian lokasi, pemetaan, pengamatan vegetasi, analisis hidrologi, identifikasi pemangku kepentingan, pemilihan metode rehabilitasi, pelaksanaan kegiatan, serta pemantauan dan evaluasi.
Dalam prosesnya, regenerasi alami menjadi salah satu indikator penting untuk memahami kemampuan ekosistem memulihkan dirinya.
Apabila penanaman diperlukan, pemilihan spesies, metode, kepadatan, lokasi, dan waktu pelaksanaan perlu mempertimbangkan kondisi ekologis kawasan.
Dengan prinsip tersebut, rehabilitasi diarahkan bukan semata-mata untuk menghasilkan sebanyak mungkin pohon yang tertanam, melainkan untuk mendorong terbentuknya ekosistem mangrove yang sehat, berfungsi, dan mampu berkembang secara berkelanjutan.
CBEMR dan Ecological Mangrove Rehabilitation
Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation merupakan pengembangan pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari proses pemulihan.
EMR memberikan fondasi ekologis melalui pemahaman terhadap hidrologi, kondisi tapak, regenerasi alami, serta faktor pembatas pertumbuhan mangrove.
CBEMR memperkuat fondasi tersebut melalui partisipasi masyarakat, pengetahuan lokal, penguatan kapasitas, pengelolaan kolaboratif, dan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Keduanya memiliki prinsip yang sama: memulihkan proses ekosistem terlebih dahulu dan melakukan penanaman secara selektif apabila memang dibutuhkan berdasarkan kondisi lapangan.
Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation di Indonesia
Indonesia memiliki sejarah penerapan dan pengembangan Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation.
Salah satu referensi penting adalah studi Brown, Fadillah, Nurdin, Soulsby, dan Ahmad mengenai penerapan CBEMR di Indonesia yang mendokumentasikan pengembangan pendekatan dari lokasi berskala kecil hingga menengah serta peluang penerapannya pada skala yang lebih luas.
Implementasi dan pelatihan CBEMR juga terus berkembang di Indonesia. Pada Bengkalis, misalnya, pelatihan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan memasukkan penilaian kesesuaian lokasi, hidrologi, pemetaan, kondisi sosial, serta penyusunan strategi restorasi dan rencana pemantauan berbasis kondisi tapak.
Hal tersebut menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove semakin bergerak menuju pendekatan yang menghubungkan sains, kondisi bentang alam, masyarakat, dan pengelolaan jangka panjang.
Mengapa Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation Penting?
Tantangan rehabilitasi mangrove semakin kompleks.
Perubahan penggunaan lahan, perubahan hidrologi, pembangunan kawasan pesisir, abrasi, sedimentasi, perubahan iklim, serta tekanan aktivitas manusia dapat menyebabkan kondisi setiap lokasi berbeda.
Pendekatan yang hanya mengandalkan satu metode berisiko mengabaikan kompleksitas tersebut.
CBEMR memberikan kerangka untuk memahami lokasi terlebih dahulu, memperbaiki faktor pembatas, melibatkan masyarakat, mendorong regenerasi alami, dan menggunakan penanaman secara tepat sasaran.
Dengan demikian, rehabilitasi dapat diarahkan pada pemulihan fungsi ekologis dan ketahanan ekosistem, bukan sekadar pencapaian target fisik jangka pendek.
Pertanyaan tentang Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation
Apakah CBEMR Harus Melakukan Penanaman Mangrove?
Tidak selalu.
Penanaman merupakan salah satu pilihan intervensi. Dalam pendekatan CBEMR, prioritas pertama adalah mengetahui mengapa regenerasi alami tidak berlangsung.
Apabila faktor pembatas dapat diperbaiki dan propagul tersedia secara alami, regenerasi dapat menjadi bagian utama proses pemulihan.
Penanaman dilakukan apabila hasil asesmen menunjukkan intervensi tersebut memang diperlukan.
Apa Perbedaan CBEMR dengan Penanaman Mangrove Konvensional?
Perbedaan utamanya berada pada cara menentukan intervensi.
Penanaman konvensional dapat berfokus pada penyediaan dan penanaman bibit, sedangkan CBEMR terlebih dahulu mempelajari ekologi, hidrologi, penyebab degradasi, kesesuaian lokasi, kondisi sosial, dan potensi regenerasi alami.
Mengapa Masyarakat Penting dalam CBEMR?
Masyarakat merupakan pengguna, pengelola, dan pihak yang berinteraksi langsung dengan kawasan pesisir.
Keterlibatan masyarakat membantu mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan informasi ilmiah, membangun kesepahaman terhadap tujuan rehabilitasi, serta memperkuat peluang pengelolaan kawasan setelah kegiatan rehabilitasi selesai.
Apa Indikator Keberhasilan CBEMR?
Keberhasilan dapat dievaluasi melalui kombinasi indikator ekologis dan sosial.
Indikator ekologis dapat meliputi regenerasi alami, kelangsungan hidup, pertumbuhan vegetasi, struktur tegakan, hidrologi, sedimentasi, biodiversitas, dan perkembangan fungsi ekosistem.
Sementara itu, indikator sosial dapat menilai partisipasi, kapasitas masyarakat, tata kelola, dan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Dari Penanaman Menuju Pemulihan Ekosistem
Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) mengubah cara pandang terhadap rehabilitasi mangrove.
Mangrove tidak dipulihkan hanya dengan menanam pohon sebanyak mungkin. Ekosistem perlu dipahami sebagai kesatuan antara vegetasi, air, sedimentasi, bentang alam, biodiversitas, dan manusia.
Karena itu, rehabilitasi yang berkelanjutan dimulai dari memahami penyebab degradasi, memulihkan proses ekologis, menciptakan kondisi yang mendukung regenerasi alami, melibatkan masyarakat, serta melakukan intervensi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Melalui pendekatan berbasis sains, data, dan partisipasi masyarakat, IKAMaT mendorong rehabilitasi mangrove menuju pemulihan ekosistem yang terukur, adaptif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Rehabilitasi Mangrove
IKAMaT membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, perusahaan, lembaga nasional dan internasional, perguruan tinggi, komunitas, serta masyarakat pesisir dalam perencanaan, asesmen, rehabilitasi, pemantauan, dan pengelolaan ekosistem mangrove.
Setiap lokasi membutuhkan solusi yang sesuai dengan kondisi ekologis dan sosialnya.
Rehabilitasi yang baik tidak dimulai dari berapa banyak mangrove yang akan ditanam, tetapi dari seberapa baik kita memahami ekosistem yang ingin dipulihkan.
Konsultasikan kebutuhan rehabilitasi dan pemulihan ekosistem mangrove bersama IKAMaT.
Referensi
Brown, B., Fadillah, R., Nurdin, Y., Soulsby, I., & Ahmad, R. (2014). Community Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) in Indonesia: From Small (12–33 ha) to Medium Scales (400 ha) with Pathways for Adoption at Larger Scales (>5,000 ha). S.A.P.I.EN.S.
Mangrove Action Project. Community-Based Ecological Mangrove Restoration: Restoration Training and Approach. Pendekatan CBEMR mengintegrasikan ekologi, hidrologi, kondisi sosial, pengetahuan lokal, dan keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi mangrove.
Mangrove Action Project & Global Mangrove Alliance Indonesia. From Theory to Practice: Enhancing Restoration through CBEMR. Bengkalis, Indonesia.
Global Mangrove Alliance. Global Ecological Mangrove Restoration. Pendekatan restorasi ekologis menekankan pemulihan hidrologi dan kondisi pendukung regenerasi alami dibandingkan ketergantungan pada penanaman monokultur.