Semarang – IKAMaT. Dalam rangkaian peningkatan kapasitas dan pelatihan mengenai pembibitan, penanaman, dan pengelolaan ekosistem mangrove di Kota Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan Kota Semarang sebagai bentuk langkah nyata dalam membibitkan dan menanam mangrove sebagai upaya pelestarian ekosistem pesisir. IKAMaT kembali didaulat menjadi narasumber kaitannya dengan rehabilitasi mangrove dalam pengelolaan berbasis ekosistem dan sosial ekonomi. (6/8/2026).
Pelatihan Ekosistem Mangrove di Kota Semarang

Foto bersama setelah pelatihan.
Setelah IKAMaT menjadi narasumber pada rangkaian acara yang sama di Pondok Mangrove Kelompok Ngebruk Lestari (KENARI), Kelurahan Mangunharjo, Kota Semarang yang diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari kelompok masyarakat/tani, pelajar dan mahasiswa, serta instansi terkait ekosistem mangrove.
IKAMaT kemudian kembali menjadi narasumber dengan materi yang sama, tetapi di lokasi lain di Kota Semarang. Kegiatan kali ini dilaksanakan di kawasan Kampung Nelayan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang.
Kolaborasi untuk Pelestarian Ekosistem Mangrove
Dalam pelatihan ini, kegiatan juga diikuti oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari kelompok masyarakat/tani, pelajar dan mahasiswa, serta instansi terkait ekosistem mangrove.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari pihak Dinas Perikanan Kota Semarang, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para narasumber.
Narasumber Pelatihan dari IKAMaT: Bambang J. Laksono
Penyampaian yang disampaikan oleh IKAMaT diwakili oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang menyampaikan mengenai pengelolaan berbasis ekosistem dan sosial ekonomi dari suatu ekosistem mangrove, serta tata cara pembibitan, penanaman, hingga pemantauan mangrove di lokasi rehabilitasi.
Bambang menyampaikan bahwa ekosistem mangrove memiliki banyak manfaat, di antaranya fungsi fisik, ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Hal ini yang menyebabkan peran mangrove sangat vital bagi wilayah pesisir dan lingkungan.
“Kegiatan rehabilitasi mangrove dilaksanakan sebagai upaya mengembalikan manfaat ekosistem mangrove yang sangat penting. Fungsi fisiknya membantu melindungi pesisir dari abrasi dan gelombang, kemudian secara ekologi, ekosistem mangrove merupakan habitat berbagai biota yang di antaranya adalah biota yang secara tidak langsung dimanfaatkan masyarakat sebagai nilai ekonomi,” jelas Bambang. “Secara langsung mangrove juga menghasilkan buah yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai olahan, seperti jajanan, batik, dan kopi mangrove. Selain itu, juga terdapat produk olahan lain yang memiliki nilai jual untuk membantu menunjang ekonomi di wilayah pesisir, salah satu wilayah yang sudah mengembangkan kawasan sentra produk mangrove adalah Sentra Produk Olahan Mangrove (SPOM) Semarang,” tambahnya.
Bambang juga menjelaskan mengenai tata cara pembibitan berbagai jenis mangrove, tata cara penanaman dan rehabilitasi mangrove, hingga pengambilan data dan evaluasi pada saat kegiatan pemantauan pada rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan.
Dalam penyampaian materi, peserta juga diberikan pemahaman bahwa kegiatan rehabilitasi mangrove tidak hanya berkaitan dengan penanaman bibit, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi ekosistem dan kesesuaian lokasi penanaman. Pemilihan jenis mangrove, kondisi hidrologi, substrat, serta keberadaan mangrove yang telah tumbuh menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan rehabilitasi dapat berjalan secara tepat dan berkelanjutan.

Proses penyampaian materi oleh Bambang J. Laksono.
Selain kegiatan penanaman, pemantauan juga menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi mangrove. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi dan perkembangan bibit setelah ditanam, sekaligus memastikan bahwa lokasi penanaman masih mendukung pertumbuhan mangrove. Data hasil pemantauan kemudian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui perkembangan kegiatan rehabilitasi dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
Pengelolaan ekosistem mangrove juga perlu dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat di wilayah pesisir. Keberadaan mangrove tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga dapat mendukung aktivitas masyarakat melalui peningkatan produktivitas perikanan, kegiatan ekowisata, serta pemanfaatan hasil mangrove bukan kayu. Oleh karena itu, pengelolaan mangrove secara berkelanjutan perlu melibatkan masyarakat sebagai salah satu pihak yang memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan dan keberlanjutan ekosistem tersebut.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teknis pembibitan dan penanaman, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan mangrove secara menyeluruh. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk turut berperan dalam kegiatan rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem mangrove di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ditutup dengan diskusi dan tanya jawab dari para peserta kepada narasumber. Kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses, serta ditutup dengan dokumentasi bersama dengan para peserta.
Melalui kegiatan pelatihan ini, IKAMaT berharap pengetahuan dan pengalaman yang telah disampaikan dapat diterapkan oleh para peserta dalam kegiatan pembibitan, penanaman, dan pemantauan mangrove di wilayah masing-masing.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat pesisir.
IKAMaT juga berharap kegiatan peningkatan kapasitas seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai salah satu upaya memperkuat pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam melakukan rehabilitasi mangrove.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pelajar, mahasiswa, serta berbagai pihak terkait, upaya pelestarian ekosistem mangrove di Kota Semarang dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat pesisir. (ADM/ARH/BJL /AP).