Dukung Perencanaan Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Berkelanjutan, IKAMaT Laksanakan Survei Pendahuluan Lokasi Rehabilitasi kepada PLTU Tanjung Jati B

Jepara – IKAMaT. Dalam rangka mendukung perencanaan yang matang terhadap rehabilitasi ekosistem pesisir, khususnya ekosistem mangrove, IKAMaT kembali melaksanakan survei pendahuluan yang mengedepankan konsep keberlanjutan. Dalam hal ini, IKAMaT melaksanakan survei pendahuluan di kawasan pesisir Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah untuk perencanaan upaya rehabilitasi yang akan dilakukan oleh PLTU Tanjung Jati B di masa yang akan datang. (8/9/2026).

Survei Pendahuluan untuk Perencanaan Rehabilitasi Pesisir

Survei pendahuluan IKAMaT untuk perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir PLTU Tanjung Jati B di Jepara.

Proses survei pendahuluan.

Dalam survei pendahuluan ini, berbagai aspek yang dapat memengaruhi keberhasilan rehabilitasi, baik selama pelaksanaan maupun pada masa mendatang, perlu diperhatikan. Survei ini mencakup pengumpulan data pendukung rehabilitasi yang meliputi dua aspek utama, yaitu aspek biofisik dan non-biofisik.

Survei Lapangan dan Analisis Remote Sensing

Dalam pelaksanaan survei pendahuluan ini, IKAMaT menggunakan dua pendekatan, yaitu survei lapangan secara langsung dan pengamatan berbasis remote sensing.

1. Survei lapangan dilakukan untuk mengetahui dan memastikan kondisi aktual di lokasi serta menilai kesesuaiannya dengan kebutuhan dan rencana rehabilitasi.

2. Pengamatan berbasis remote sensing dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi dan karakteristik lokasi melalui analisis citra penginderaan jauh yang dapat diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pendekatan ini dilakukan sebelum survei lapangan untuk memperoleh gambaran awal mengenai lokasi dan penentuan titik survei.

Survei pendahuluan IKAMaT untuk perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir PLTU Tanjung Jati B di Jepara.

Proses pengambilan data biofisik di titik survei.

Selanjutnya, saat survei lapangan berlangsung, pengambilan foto udara menggunakan drone dilakukan untuk melengkapi data spasial dan memberikan gambaran visual mengenai kondisi aktual kawasan. Kedua tahapan tersebut menjadi data pendukung dalam perencanaan rehabilitasi.

Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut saling melengkapi dalam mengumpulkan informasi dari aspek biofisik dan non-biofisik yang berpengaruh terhadap keberhasilan rehabilitasi. Hasil dari kedua pendekatan ini menjadi data pendukung untuk memahami kondisi lokasi secara menyeluruh dan menentukan kesesuaian kawasan untuk pelaksanaan rehabilitasi.

“Pada hari ini, kami dari Tim IKAMaT melaksanakan kegiatan survei pendahuluan dalam rangka sebagai bentuk dasar perencanaan kegiatan rehabilitasi ekosistem pesisir yang akan dilaksanakan oleh PLTU Tanjung Jati B. Lokasi survei pendahuluan dilaksanakan di kawasan pesisir Kabupaten Jepara yang berada di sekitar kawasan usaha PLTU Tanjung Jati B,” jelas Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan).

Survei pendahuluan IKAMaT untuk perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir PLTU Tanjung Jati B di Jepara.

Pengambilan foto udara sebagai penunjang data survei pendahuluan.

“Kemudian, kami melaksanakan survei pendahuluan dengan dua pendekatan, yaitu survei langsung ke lapangan dan dengan pendekatan pengamatan dan pengumpulan data berbasis remote sensing melalui pengambilan foto udara. Titik survei tersebar di tiga lokasi yang ditentukan berdasarkan analisis remote sensing yang telah dilakukan sebelum dilaksanakan survei ke lapangan,” jelasnya lebih lanjut.

Survei Pendahuluan di Tiga Lokasi Pesisir Jepara

Survei pendahuluan dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu kawasan pesisir PLTU Tanjung Jati B sebagai titik pertama, Pantai Bayuran sebagai titik kedua, dan Pantai Bondo sebagai titik ketiga. Penentuan ketiga titik survei tersebut didasarkan pada hasil analisis awal menggunakan citra remote sensing untuk mengidentifikasi karakteristik dan kondisi kawasan yang berpotensi menjadi lokasi rehabilitasi.

Pengambilan Data Parameter Biofisik dan Non-Biofisik

Parameter biofisik yang diukur berupa parameter lingkungan dalam pengaruhnya untuk pertumbuhan ekosistem sebagai syarat hidupnya, meliputi salinitas, pH, dan suhu perairan. Pengukuran dilakukan secara langsung di lapangan menggunakan refraktometer untuk mengukur salinitas, kertas lakmus untuk mengukur pH, serta termometer untuk mengukur suhu perairan.

Survei pendahuluan IKAMaT untuk perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir PLTU Tanjung Jati B di Jepara.

Salah satu titik survei di kawasan Pantai Bayuran, Jepara.

Kemudian parameter non-biofisik dilakukan untuk menilai kesesuaian dan kelayakan lokasi penanaman mangrove berdasarkan peruntukan ruang serta status kepemilikan atau penguasaan lahan. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran data sekunder dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah dan situs web BHUMI Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Hasil pengumpulan data awal non-biofisik selanjutnya perlu diverifikasi melalui koordinasi dengan instansi berwenang, pemerintah setempat, pemilik atau penguasa lahan, serta masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kejelasan status lahan dan mendukung kesuksesan dan keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan.

“Survei pendahuluan telah selesai dilaksanakan hari ini dengan pengambilan data dari aspek biofisik dan non-biofisik. Hasil pengamatan pada ketiga titik survei menunjukkan adanya perbedaan karakteristik lokasi. Oleh karena itu, diperlukan analisis lebih lanjut untuk menilai kesesuaian setiap lokasi berdasarkan kondisi lingkungan serta jenis vegetasi mangrove yang sesuai untuk ditanam sebagai bagian dari upaya rehabilitasi,” papar Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan).

Survei pendahuluan IKAMaT untuk perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir PLTU Tanjung Jati B di Jepara.

Salah satu titik survei di kawasan Pantai Bondo, Jepara.

“Berdasarkan hasil pengumpulan data non-biofisik, diketahui bahwa lokasi survei memiliki peruntukan ruang yang beragam berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Tengah. Kemudian, kepemilikan lahan juga perlu dipastikan terlebih dahulu. Oleh karena itu, aspek peruntukan ruang dan kepemilikan lahan perlu diperhatikan dalam perencanaan rehabilitasi dalam mendukung pemulihan ekosistem mangrove secara berkelanjutan hingga terbentuk ekosistem yang lebih kompleks,” pungkasnya.

Survei Pendahuluan sebagai Dasar Rehabilitasi Berkelanjutan

Melalui pelaksanaan survei pendahuluan ini, IKAMaT berharap data dan informasi yang telah dikumpulkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan lokasi dan pendekatan rehabilitasi yang sesuai dengan karakteristik kawasan.

Hasil analisis lebih lanjut diharapkan dapat mendukung perencanaan rehabilitasi ekosistem pesisir yang terarah, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, peruntukan ruang, dan status lahan.

Dengan demikian, upaya rehabilitasi yang direncanakan oleh PLTU Tanjung Jati B diharapkan dapat mendukung pemulihan ekosistem mangrove secara berkelanjutan serta memberikan manfaat ekologis bagi kawasan pesisir Kabupaten Jepara. (ADM/ARH/BJL/AP).