Semarang – IKAMaT. Kali ini, IKAMaT kembali menerima kunjungan dari Consortium for Java Protection Resilience untuk berdiskusi mengenai rencana pembangunan Giant Sea Wall di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa. Diskusi ini berfokus pada potensi dampak pembangunan terhadap ekosistem pesisir, khususnya ekosistem mangrove, serta pertimbangan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan agar fungsi ekologis dan manfaat lingkungan mangrove tetap terjaga. (10/9/2026).
Ekosistem Mangrove dalam Perencanaan Giant Sea Wall

Kunjungan dari perwakilan Consortium for Java Protection Resilience.
Sebagai lembaga yang berfokus pada upaya pelestarian dan pengelolaan ekosistem pesisir dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan, IKAMaT terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung perlindungan wilayah pesisir serta menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui diskusi dan pertukaran pengetahuan dengan berbagai lembaga terkait.
Proses Diskusi Mengenai Potensi dan Dampak Giant Sea Wall terhadap Wilayah Pesisir
Melalui diskusi ini, IKAMaT dan perwakilan Consortium for Java Protection Resilience bertukar pandangan mengenai perencanaan pembangunan Giant Sea Wall dengan metode terbaik di kawasan Pantura Jawa, serta potensi manfaat dan dampaknya terhadap ekosistem pesisir. Pembahasan juga mencakup pentingnya mempertimbangkan fungsi ekologis mangrove, keanekaragaman hayati, dan jasa lingkungan yang berdampak dalam perencanaan pembangunan, termasuk alternatif pengelolaan ekosistem mangrove apabila diperlukan.
“Kami berkunjung ke Sekretariat IKAMaT dengan maksud berdiskusi mengenai perencanaan pembangunan Giant Sea Wall di wilayah Pantura Jawa, khususnya terkait potensi dampaknya terhadap ekosistem pesisir dan kehidupan masyarakat setempat,” kata Navisa Nurbandika (Consortium for Java Protection Resilience). “Kami juga ingin memperoleh masukan mengenai fungsi ekologis mangrove, manfaat keanekaragaman hayati, serta pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembangunan Giant Sea Wall agar fungsi dan manfaat ekosistemnya tetap terjaga,” tambahnya.
Selanjutnya, Bagus dan Paspha menyampaikan bahwa perencanaan desain pembangunan Giant Sea Wall perlu mempertimbangkan kondisi dan karakteristik wilayah pesisir, termasuk mengapa keberadaan ekosistem mangrove tersebut sangat penting baik untuk dipertahankan secara maksimal maupun apabila terdapat opsi relokasi, dikarenakan ekosistem mangrove yang memiliki berbagai yang sangat besar.
“Pembangunan Giant Sea Wall harus tetap memperhatikan kondisi sosial, ekologi, dan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir, di mana masyarakat pesisir menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya berkelanjutan yang ada di wilayah pesisir dan kelautan tersebut,” ujar Bagus dan Paspha. “Artinya masyarakat pesisir harus beradaptasi dengan perubahan besar dari dibangunnya Giant Sea Wall tersebut, baik secara sosial maupun ekonomi, yaitu dalam mata pencaharian mereka. Hal ini saat ini dengan degradasi mangrove yang sudah terasa, perubahan juga sudah terasa,” tambah mereka.

Proses diskusi dalam perencanaan Giant Sea Wall dan dampaknya bagi eksosistem pesisir.
Fungsi Ekologis Ekosistem Mangrove bagi Pesisir
Selanjutnya, Paspha menjelaskan pentingnya ekosistem mangrove bagi lingkungan pesisir, terutama dalam mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Secara ekologis, ekosistem mangrove menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta mendukung keberlangsungan kehidupan di wilayah pesisir.
Bagus juga menambahkan bahwa ekosistem mangrove memiliki berbagai manfaat jasa lingkungan yang penting bagi kelestarian wilayah pesisir. Manfaat tersebut meliputi perlindungan alami pesisir dari abrasi dan gelombang, serta kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar, yang dalam kondisi tertentu dapat mencapai tiga hingga lima kali lebih banyak dibandingkan ekosistem terestrial.
Selain itu, ekosistem mangrove turut membantu menjaga kualitas air, mengurangi risiko intrusi air laut, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan. Tidak hanya dari aspek ekologis, mangrove juga memberikan manfaat sosial melalui pengembangan kegiatan pendidikan, penelitian, dan ekowisata berkelanjutan yang dapat mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
Ekosistem Mangrove sebagai Solusi Berbasis Alam
Melalui diskusi tersebut, IKAMaT menyampaikan pentingnya ekosistem mangrove dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. IKAMaT berharap keberadaan dan fungsi ekologis mangrove dapat menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perencanaan pembangunan Giant Sea Wall, mengingat manfaatnya bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
Perlindungan Ekosistem Mangrove dalam Pembangunan Pesisir
IKAMaT juga menekankan perlunya memaksimalkan peran ekosistem mangrove sebagai solusi berbasis alam yang mendukung perlindungan wilayah pesisir. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan diharapkan mengutamakan perlindungan ekosistem mangrove yang masih ada. Apabila relokasi tidak dapat dihindari, langkah tersebut perlu direncanakan secara cermat dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem serta upaya menjaga fungsi ekologis dan manfaat lingkungannya.
Dengan demikian, pembangunan Giant Sea Wall diharapkan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian mangrove dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. (ADM/ARH/PGMP/AP).