Praktik Pemanfaatan Berbasis Ekosistem Mangrove, IKAMaT Dampingi Pelatihan Jajanan Mangrove, Batik Mangrove, dan Kopi Mangrove di Jayapura, Papua

Semarang – IKAMaT. IKAMaT kembali sukses melaksanakan implementasi salah satu pilar utamanya, yaitu kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pelatihan mangrove sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dalam pelestarian dan pemanfaatan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran praktik baik yang telah dilaksanakan di Sentra Produksi Olahan Mangrove (SPOM) Semarang. (20–22/7/2026).

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Foto bersama dengan hasil batik mangrove setelah sesi pelatihan mangrove selesai.

Dalam kegiatan ini, IKAMaT bersama KeSEMaT mendampingi kelompok binaan KeSEMaT, yaitu Arjuna Berdikari, yang diwakili oleh Ferry A. Istiasmara selaku Ketua Kelompok Pengolah Kopi Mangrove Arjuna Berdikari dan Mufidah selaku Ketua Kelompok Pengolah Jajanan Mangrove Bina Citra Karya Wanita dan Kelompok Pengrajin Batik Mangrove Srikandi Pantura, sebagai trainer pelatihan dalam pelaksanaan pelatihan jajanan, batik, dan kopi mangrove di Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian dari Program Capacity Building Kelompok Subsisten Kelompok Tani Hutan (KTH) Ibayauw yang merupakan kolaborasi bersama Bank Indonesia (BI) dengan tajuk “Pelatihan Pencatatan Keuangan, Pembuatan Kopi Mangrove, Jajanan Mangrove, dan Batik Mangrove” di Jayapura.

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Penyampaian materi mengenai jajanan mangrove oleh Mufidah.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 orang yang berasal dari KTH Ibayauw di Kampung Enggros. KTH Ibayauw sendiri merupakan kelompok pelestari lingkungan yang didirikan pada tahun 2018 oleh para perempuan adat di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua dan kemudian menjadi salah satu mitra binaan dari BI.

Sebagai informasi, Kampung Enggros merupakan sebuah perkampungan adat unik dan dikelilingi pemandangan yang indah dan terletak di atas perairan Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua, Indonesia. Masyarakat di kampung ini telah merasakan dan memanfaatkan langsung hasil dari ekosistem mangrove yang berada di Teluk Youtefa tersebut. Kawasan ekosistem mangrove dikenal sebagai Tonotwiyat yang menjadi sumber dari hasil perikanan, kerang-kerangan, dan udang bagi masyarakat sekitar.

Pendampingan pelatihan ini diwakili oleh Anggoro D. B. Saputro (Staf Koordinator Operasional Media) dan Samsul Maarif (KeSEMaT).

Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari, di mana pada hari pertama diagendakan kegiatan pelatihan pengolahan jajanan mangrove, yaitu peyek dan cendol mangrove. Dilanjutkan pada hari kedua berupa pelatihan pengolahan kopi mangrove. Serta pada hari ketiga, dilaksanakan pelatihan pembuatan batik mangrove.

Pelatihan Mangrove Hari Pertama: Pengolahan Jajanan Mangrove, yaitu Cendol dan Peyek Mangrove

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Praktik pengolahan cendol mangrove.

Pada hari pertama, pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan pembuatan jajanan mangrove berupa peyek mangrove dan cendol mangrove di mana pelaksanaannya dilaksanakan di Balai Pertemuan Kantor Kampung Enggros.

Pelatihan mangrove diawali dengan penyampaian materi ruangan mengenai jenis mangrove yang dimanfaatkan, alat dan bahan yang digunakan, tata cara perlakuan dan pengolahan mangrove, serta bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan jajanan mangrove oleh Mufidah diikuti dengan praktik secara langsung dalam pembuatan peyek dan cendol mangrove.

“Jajanan mangrove memanfaatkan daging buah dari mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, yang diolah melalui proses perendaman dan pengkukusan menjadi sebuah adonan yang siap dipakai untuk olahan maupun dijadikan tepung yang lebih tahan lama untuk disimpan,” jelas Mufidah. “Tepung dan adonan mangrove ini nantinya akan menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam pembuatan peyek dan cendol mangrove yang akan dipraktikkan setelah ini,” tambahnya.

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Proses pengadonan dan pengolahan peyek mangrove.

Salah satu anggota KTH Ibayauw, yaitu Popi C. Hababuk menyampaikan bahwa kegiatan hari pertama diisi dengan kegiatan pelatihan pencatatan keuangan dan pengolahan buah mangrove. Buah mangrove diolah menjadi cendol dan peyek yang diharapkan dapat membantu KTH untuk memanfaatkan buah mangrove secara berkelanjutan.

“Saya sangat bersyukur dapat mengikuti pelatihan pengolahan buah mangrove, yaitu menjadi cendol dan keripik peyek. Ini merupakan suatu ilmu yang sangat luar biasa kami petik untuk para ibu-ibu yang ada di Kampung Apung Enggros ini,” ujar Popi. “Sebelumnya kami dari kelompok tidak mengetahui sama sekali bahwa buah mangrove dapat dimanfaatkan menjadi makanan seperti ini. Namun, setelah kami mengikuti pelatihan kami jadi tahu bahwa buah mangrove itu tidak hanya tinggal saja begitu, tetapi dapat kami olah menjadi produk yang luar biasa, yaitu produk kuliner,” tambahnya.

Pelatihan Mangrove Hari Kedua: Pengolahan Kopi Mangrove

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Penyampaian materi mengenai kopi mangrove oleh Ferry A. Istiasmara.

Pelatihan mangrove hari kedua masih dilaksanakan di Kantor Kampung Enggros, kegiatan pelatihan juga diawali dengan penyampaian materi ruangan sebelum praktik yang disampaikan oleh Ferry A. Istiasmara. Materi yang disampaikan berkaitan dengan jenis dan bagian mangrove yang dimanfaatkan, alat dan bahan yang digunakan, tata cara perlakuan dan pengolahan buah mangrove, pemorsian bubuk kopi dan mangrove, serta penyajian kopi mangrove.

“Kopi mangrove merupakan salah satu produk yang memanfaatkan buah mangrove jenis Rhizophora mucronata atau bakau, dalam pemanfaatannya buah diambil bagian bonggol yang berwarna coklat dan kemudian dilakukan perlakuan perendaman dan pengeringan sebelum di sangrai dan dihaluskan,” papar Ferry. “Setelah buah mangrove telah dilakukan perlakuan perendaman dan pengeringan dilanjutkan sangrai dan penghalusan, dilakukan kegiatan pemorsian buah mangrove halus yang dicampurkan dengan kopi robusta. Hasil pemorsian tersebut akan menghasilkan cita rasa yang unik sekaligus menyehatkan baik dari buah mangrove maupun kopinya,” tambahnya.

Pelatihan mangrove bersama KTH Ibayauw di Jayapura melalui pembuatan jajanan, kopi, dan batik mangrove.

Proses

Yuli Drunyi (KTH Ibayauw) mengungkapkan olahan produk kopi mangrove merupakan hal baru bagi kelompok, sehingga pelatihan kopi mangrove ini dapat menambah ilmu dari kelompok untuk mengolah buah mangrove menjadi produk kopi mangrove. Ia juga menyampaikan bahwa dari mangrove ternyata juga dapat menghasilkan minuman yang luar biasa, ia juga berharap bahwa pengolahan kopi mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan di sana dan dapat dipasarkan ke pasar yang lebih luas.

Pelatihan Mangrove Hari Ketiga: Pembuatan Kerajinan Batik Mangrove

Kemudian, di hari terakhir pelatihan mangrove, pelatihan yang dilaksanakan berupa pelatihan pembuatan batik mangrove yang memanfaatkan pewarna alami dari mangrove. Kegiatan pelatihan ini dibuka dengan pemaparan di dalam ruangan mengenai proses pembuatan batik mangrove yang memanfaatkan pewarna dari bahan alami mangrove.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan di sentra pembuatan batik di Kota Jayapura, sehingga dilakukan kolaborasi juga dengan pengrajin batik setempat, yaitu Kelompok Batik Amelda. Pelatihan diawali dengan pemaparan materi oleh Mufidah mengenai tata cara pembuatan pewarna alami, dilanjutkan dengan praktik, di mana metode pembatikan terdiri atas tulis dan cap.

Para peserta pelatihan memulai dengan mencoba menggambar pola dan kemudian mencoba metode cap. Metode batik tulis harus tetap dilaksanakan proses mencanting sesuai dengan pola yang digambar, sedangkan cap dapat dilanjutkan langsung ke proses selanjutnya.

“Kami bersama-sama dengan anggota KTH Ibayauw di pelatihan hari ketiga ini, telah mengikuti kegiatan membatik yang menggunakan pewarna alami dari mangrove. Kegiatan ini sangat baik dan tentunya memberikan dampak yang positif, karena hasilnya akan membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” kata Petronela Merauje (KTH Ibayauw). “Harapannya semoga ilmu yang hari ini kami dapat, dapat kami terapkan dan kami implementasikan di dalam kegiatan KTH Ibayauw Kampung Enggros. Terima kasih saya ucapkan juga kepada para narasumber, IKAMaT, dan juga Bank Indonesia, Salam Lestari!,” pungkasnya.

Pelatihan mangrove selama tiga hari tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan ekosistem mangrove dapat dikembangkan melalui pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan keterampilan masyarakat pesisir. Melalui pengolahan jajanan mangrove, kopi mangrove, dan batik mangrove, peserta memperoleh pengetahuan baru mengenai potensi pemanfaatan hasil mangrove secara lebih bernilai tambah.

Pendampingan yang dilakukan IKAMaT bersama KeSEMaT, Arjuna Berdikari, Bina Citra Karya Wanita, dan Srikandi Pantura juga menjadi ruang pertukaran praktik baik antara kelompok masyarakat pesisir di Semarang dan KTH Ibayauw di Kampung Enggros, Jayapura. Pengetahuan yang sebelumnya telah dikembangkan melalui pengalaman pengolahan produk berbasis mangrove di SPOM Semarang kemudian diperkenalkan dan dipraktikkan secara langsung sesuai dengan konteks masyarakat setempat.

Melalui kegiatan ini, IKAMaT berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan secara bertahap oleh KTH Ibayauw menjadi kegiatan produktif yang tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem mangrove di Teluk Youtefa. (ADM/ARH/AP).