Hasil Studi Banding KKMD Jateng ke Clungup Mangrove Conservation, Malang

Malang – IKAMaT. IKAMaT sebagai salah satu pengurus dan anggota dalam kepengurusan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Jawa Tengah (Jateng) telah mengadakan studi banding bersama KKMD Jateng ke Clungup Mangrove Conservation (CMC), Malang. Instansi yang mengikuti kegiatan ini adalah Bappeda Prov. Jateng, Dinas LHK Prov. Jateng, Biro ISDA Setda Prov. Jateng, BPDASHL Pemali Jratun, BPDASHL Serayu Opak Progo, BKSDA Jawa Tengah, FPIK UNDIP, IKAMaT dan UNNES. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini, meliputi wilayah Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta. (9/9/2022).

Foto bersama di CMC.

Sebelum menuju lokasi studi banding, rombongan KKMD menginap di salah satu hotel di Malang. Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan menuju CMC dengan lama perjalanan hingga tiga jam. Sampai di lokasi, pengurus CMC menyambut rombongan KKMD dengan hangat.

Salah satu tour guide mempersilakan untuk beristirahat di ruangan. Sebelum berangkat ke lokasi wisata mangrove, rombongan diberikan briefing dan edukasi, terkait sejarah CMC, berikut sistem manajemennya.

Suasana studi banding.

“Bapak Saptoyo mendirikan CMC Malang ini sejak tahun 2005,” jelas Aris (tour guide). “Pada tahun 2014, beliau mendirikan Yayasan Masyarakat Konservasi hingga terbentuk sistem manajemen yang bagus, hingga saat ini,” lanjutnya.

Penjelasan dari Aris tersebut membuat rombongan penasaran, seputar bagaimana sistem manajemen tersebut dapat bertahan, untuk dapat dijadikan pembelajaran di masing-masing lokasi peserta studi banding.

“Saya sangat setuju dengan lima moto yang dipakai CMC Malang ini, yaitu konservasi, pemberdayaan masyarakat, edukasi, wisata dan peningkatan ekonomi,” kata Bangkit, salah satu peserta dari Brebes. “Hal inilah yang juga kami terapkan di kawasan wisata mangrove di Brebes,” terangnya lebih lanjut.

Setelah briefing, peserta kemudian foto bersama di depan sekretariat CMC dan melakukan perjalanan studi banding mulai dari treking mangrove, pantai Clungup, pantai Gatra dan pantai Tiga Warna. Waktu studi banding memakan waktu hingga empat jam, yaitu dari pukul 13.00 hingga 17.30 WIB yang ditutup dengan foto bersama.

“Saya pribadi kagum terhadap kedisiplinan, terkait konservasi mangrove yang ada di sini,” kata Gagas Tri Pamungkas (Manajer Lapangan). “Barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah harus dihitung, supaya pengunjung yang datang juga mempunyai kewajiban untuk menjaga sampahnya masing masing. Hal ini harus ditiru di setiap kawasan wisata mangrove,” pungkasnya. (ADM/GTP).

Leave a Reply

Your email address will not be published.