Workshop Mangrove IKAMaT Sukses Diselenggarakan di Kota Serang

Workshop Mangrove IKAMaT Sukses Diselenggarakan di Kota Serang

Serang – IKAMaT. Degradasi mangrove oleh aktivitas manusia kian hari kian mengkhawatirkan. Kondisi ini menjadi kekhawatiran Yayasan IKAMaT, utamanya terhadap mindset masyarakat pesisir terhadap pengelolaan kawasan pesisir yang sifatnya justru tidak mempertahankan eksisting mangrove sebagai daya guna utama.

Padahal, mangrove dapat dimanfaatkan masyarakat secara langsung tanpa harus mengorbankan keberadaannya, bahkan dapat dijadikan pemasukan utama dalam hal ekonomi tanpa mengeksploitasinya, asalkan pengelolaannya tepat sasaran.

Warga pesisir peserta WMI 2018.

Atas dasar itulah, maka IKAMaT mengadakan program Workshop Mangrove IKAMaT (WMI) 2018 yang secara umum bertujuan untuk memberikan pengetahuan secara lebih mendalam kepada warga pesisir, mengenai fungsi, manfaat dan pengelolaan ekosistem mangrove.

WMI Sukses
Pada tanggal 22 Desember 2018, mulai dari pagi hingga siang hari, IKAMaT sukses menyelenggarakan WMI 2018 yang berlangsung di Kota Serang. Dalam pelaksanaannya, IKAMaT menggandeng KeMANGTEER Serang sebagai Koordinator Pelaksana di lapangan.

Bifa A. Manuhuwa mewakili Dirut IKAMaT, menyampaikan sambutannya.

Sasaran kegiatan ini adalah puluhan masyarakat yang tinggal di pesisir wilayah Kota Serang dan Anggota KeMANGTEER Serang.

Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini, yaitu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, yang diwakili oleh Uce Wahyudin (Seksi Pengelolaan Ruang Laut dan Koservasi) dan Trainer Pengolahan Makanan Mangrove Semarang, yang diwakili Sulistiowati (Keluarga Alumni KeSEMaT – KeAMaT).

Bertempat di Saung Jembatan Pelangi, Desa Lontar, Kota Serang, acara dimulai dengan registrasi peserta, kemudian sambutan-sambutan.

Praktik Stik, Pangsit dan Tepung Mangrove
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua KeMANGTEER Serang, yaitu Nur Andini Putri. Sambutan kedua oleh Dirut Yayasan IKAMaT, yang diwakili Bifa Aulia Manuhuwa dan terakhir sambutan dari Ketua Kelompok Pengelola Jembatan Pelangi, Rofin.

Ibu-ibu peserta WMI nampak mempraktikkan aneka olahan dari buah mangrove.

Acara dilanjutkan dengan Pelatihan Pengolahan Makanan Mangrove. Pada sesi ini, peserta WMI diajak praktik langsung mengolah buah mangrove menjadi makanan. Praktik yang dilakukan, mulai dari merebus buah mangrove hingga tawar (siap olah), pembuatan stik mangrove, pangsit mangrove dan yang terakhir adalah tepung mangrove.

Peserta, khususnya warga pesisir sangat antusias dalam melaksanakan praktik ini, pasalnya menurut pengakuan mereka, di pesisir Kota Serang banyak ditemui potensi buah mangrove yang dapat dimanfaatkan, namun mereka belum mengerti bagaimana cara mengolahnya hingga menjadi olahan yang bermanfaat dan memiliki nilai ekomonis.

Dukungan DKP Banten
Setelah acara praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan paparan dari DKP Provinsi Banten. Dalam paparannya mengenai Pengembangan Pemanfaatan Kawasan Mangrove di Kota Serang, Uce Wahyudin menyampaikan apresiasinya untuk WMI. Maka dari itulah, dia mengharapkan adanya tindak lanjut pasca kegiatan.

DKP Banten menyambut baik WMI 2018.

Uce menjelaskan bahwa DKP Provinsi Banten siap membantu dan mendukung apabila membutuhkan dana untuk proyeksi lebih lanjut.

Donasi Mangrover Unite
Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Donasi Pondok Mangrove dari Mangrover Unite untuk merenovasi Pondok Mangrove di Domas, Serang. Penyerahan ini juga disaksikan langsung oleh CEO Mangrover Unite, yaitu Bifa.

Penyerahan Donasi dari Mangrover Unite untuk KeMANGTEER Serang.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan ISAMA. Acara diakhiri dengan Pembagian Sertifikat dan Foto Bersama.

Harapan Kedepan
IKAMaT sangat berharap, pasca kegiatan ini terlaksana, KeMANGTEER Serang selaku Koordinator Lapangan, akan dapat menindaklanjuti ilmu dan materi yang telah diberikan secara mandiri. Harapan terbesar IKAMaT, tentu saja agar masyarakat pesisir dapat langsung menerapkan dan melakukan pengolahan mangrove secara berdikari dan kontinyu.

Pembagian sertifikat kepada peserta WMI.

“Kami menargetkan, setiap tahun akan ada WMI di kota yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pemahaman mengenai pengelolaan mangrove yang baik dan benar. Hal ini didasarkan pada pengalaman kami dalam menjalankan program-program pendampingan masyarakat di pesisir Jawa selama empat tahun terakhir ini,” ujar M. Faisal R., selaku Dirut IKAMaT, saat ditemui di Sekretariat IKAMaT. “Dalam waktu dekat, pelaksanaan WMI ini juga direncanakan akan menyasar lokasi lainnya di regional KeMANGTEER, di seluruh Indonesia. Jadi bagi Rekan-rekan KeMANGTEER semua, bersiap-siap saja, kemungkinan regionalnya akan kami sambangi untuk melaksanakan pelatihan serupa,” tambahnya.

IKAMaT tidak menutup kemungkinan daerah-daerah lain di luar regional KeMANGTEER untuk diterapkan parktik WMI. Bagi daerah pesisir yang berminat wilayahnya diberikan program serupa, silakan menghubungi CP Yayasan IKAMaT yang tertera pada website IKAMaT. (GRE/AP/KSRG/ADM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *